Arti Red Line dan Green Line di Bea Cukai

September 8, 2017

Per tanggal 10 Juli 2017 Ibu Menteri Keuangan, Sri Mulyani membentuk satgas Penertiban Impor Berisiko Tinggi (PIBT) yang terdiri dari dirjen Bea cukai, Polri, TNI untuk menghentikan kegiatan impor borongan. Untuk diketahui, impor borongan telah berlangsung selama belasan tahun. Sekian lama itu juga ekosistem dan populasi pengusaha barang impor dalam skala UKM telah terbentuk. Dengan pelarangan yang terkesan mendadak dan tanpa sosialisasi tersebut menyebabkan tertahannya modal dan barang-barang yang tidak sedikit, baik di pelabuhan, direexpor, ataupun masih tertahan di negara asal.

Akibat hal ini telah terjadi kegaduhan dan kegelisahan bagi para pelaku bisnis UKM di tanah air yang tidak dapat terelakkan, di tengah-tengah lesunya perekonomian mikro saat ini. Efeknya, setiap elemen di rantai distribusi yang panjang juga terkena dampak mengingat sebagian besar barang impor tidak diproduksi di dalam negeri.

Menurut Kepala Seksi Humas Ditjen Bea dan Cukai Devid Yohannis Muhammad, istilah redline tersebut sebenarnya kurang tepat. Sebenarnya yang dimaksud jalur merah atau red line itu adalah pemeriksaan fisik dan dokumen serta pembayaran untuk barang impor. Kalau semua beres, barang baru bisa keluar. Selama ini menurutnya, ada banyak importir berisiko tinggi yang mengakali pemerintah untuk menghindari bea masuk dan atau perijinan tertentu dengan mendaftarkan barang secara GENERAL atau tidak spesifik (General Cargo). Seharusnya declare barang ini, tapi dia declare barang yang lain (Jawa Pos 2 Agustus 2017).

Disinyalir, red line yg berkepanjangan ini dapat mengakibatkan inflasi besar-besaran, pailit, kredit macet dan PHK, sehingga menyengsarakan rakyat kecil. Alih-alih ingin memperbesar pemasukan negara, tapi tidak memperhatikan dampak ekonominya.

Seharusnya produksi UKM dalam negeri harus didukung terlebih dahulu sebelum mengentikan kegiatan impor borongan secara total. Dan bagi barang-barang yang sudah ditahan ada baiknya diberikan AMNESTY, sehingga modal UKM bisa dialihkan untuk persiapan dalam negeri.

Dan seharusnya, dilakukan sosialisasi terlebih dahulu akan hal ini terkait pembatasan tenggat waktu impor borongan, sehingga tidak terjadi penumpukan modal di luar negeri. Yang atas diberi amnesti, yang bawah diberi subsidi, yang tengah jangan dibiarkan mati.

Sebenarnya bukan pedagang tidak mau bayar bea masuk, tapi pedagang tidak sanggup bayar bea masuk yang tinggi yang menyebabkan mereka tidak bisa dapat harga jual yang bersaing di pasar. Kalau mereka naikin harga pun, ada kompetitor lain yang harganya lebih murah dengan berbagai cara : bisa handcarry, bisa borongan juga, dan macam-macam cara yang penting barang masuk.

Kenapa sih kok harus impor ??

1. Barang tidak bisa diproduksi di Indonesia
2. Barang terlalu mahal untuk diproduksi di Indonesia
3. Barang consumer goods, bukan barang-barang illegal seperti narkoba, alkohol, rokok dan sebagainya.

Mendukung produk dalam negeri memang bagus, tapi apakah kita sudah siap ekspor?
Dan sekarang impactnya adalah penjual negara asing lebih gampang mengirim barang satuannya ke pengguna Indonesia (biaya ekspor pengiriman mereka disubsidi oleh negaranya) dan sangat murah. Sebagai contoh aliexpress, lazada dan shopee juga banyak penjual luar negeri yang bisa kirim ke Indonesia dan barang jatuhnya jauh lebih murah. Sedangkan produsen dalam negeri masih mematok harga yang tinggi dengan kualitas yang masih dibawah standar. Hmm….

 

Green Line vs Red Line

Ada dua penggolongan yang biasa disebut di dalam dunia clearance. Yaitu green line dan red line.

  • Green Line atau jalur hijau biasanya adalah general cargo yang boleh masuk ke Indonesia tanpa ada dokumentasi tertentu. Jadi tinggal dicocokan antara manifes dan hasil scan barang sudah langsung dihand over lagi ke kurir untuk proses delivery.
  • Red Line adalah keadaan dimana custom menahan barang karena adanya ketidak sesuaian. Berikut adalah yang menyebabkan red line :

– Manifes yang tertulis, deskrisi di airwaybill dan isi paket tidak sesuai sehingga butuh di inspeksi dengan cara di buka oleh custom.
– Under Value, atau memberikan nilai barang terlalu rendah dibandingkan dengan nilai komersial barang yang sebenarnya. Misal barang senilai USD 500 tapi dituliskan bahwa value hanya USD 20, atau malah no commercial value.
– Barang tersebut dilarang masuk ke Indonesia. Misalnya : senjata api dan benda tajam
– Barang tersebut boleh masuk Indonesia dengan dokumentasi atau rekomendasi dari departemen terkait. Misalnya : barang barang yang bisa memancarkan signal membutuhkan ijin masuk dari dirjen postel.
– Barang yang berisikan makanan/ obat2an/ barang yang dikonsumsi langsung oleh manusia
– Ketidaksesuaian berat
– Ketidaksesuaian data penerima (beberapa perusahaan di kawasan berikat yang mempunyai fasilitas P35)

Ada beberapa tips supaya barang bisa masuk green line :
– cantumkan deskripsi yang tepat untuk barang yang dikirim
– komunikasikan dengan pihak pengirim dokumen apa saja yang harus disiapkan untuk masuk Indonesia. Bisa tengok di http://eservice.insw.go.id ya
– cantumkan value yang wajar, jangan undervalue.

Biasanya barang yang termasuk general cargo, valuenya kurang dari USD 100, dan bukan barang yang dilarang, asal sesuai dan dokumentasi cukup jelas maka akan dengan mudah di release oleh custom.

Bagaimana kalau red line? Berikut yang harus dilakukan :
– Hubungi kurir yang menangani barang tersebut, kalau kurirnya bagus pasti akan di telpon kalau ada masalah
– Informasikan nomor airwaybill dan tanyakan mengapa ditahan, dan apa yang disiapkan oleh anda sebagai penerima supaya bisa cepat release.
– Siapkan dokumentasi pendukung. Biasanya custom akan meminta anda untuk membuat surat pernyataan bahwa ini adalah untuk keperluan pribadi dan tidak untuk dijual. Namun hal ini juga subjected ke custom approval.

Sumber : 

_https://tidurberjalan.wordpress.com/2013/03/06/red-line-vs-green-line-di-bea-cukai/

0

Kalimat Yang Membuat Pria Klepek-Klepek

September 3, 2017

Mengerti akan kebutuhan dan kesenangan pasangan tentu akan membuat hubungan pernikahan semakin manis. Artikel ini lebih ditujukan untuk para wanita.

Berikut ini beberapa kalimat yang disukai oleh pada umumnya pria yang layak untuk diucapkan oleh seorang wanita :

1. “Kamu terlihat tampan pa…”

Bukan hanya wanita yang seringkali tidak nyaman (insecure) dengan penampilannya. Dengan memberikan pujian seperti “kamu terlihat tampan”, maka ini bisa membantu untuk menenangkan sikap “insecure” dan membuatnya merasa percaya padamu.

Apalagi jika seorang pria tersebut memang sedang berusah memaksimalkan penampilannya, maka ia akan merasa usahanya terlihat jelas olehmu

2. “Aku suka (bagian tubuhmu) pa….”

Berikan pujian pada bagian tubuhnya yang benar-benar membuatmu kagum. Mungkin perutnya yang njembling, tangannya yang kekar, rambutnya yang bergaya seperti dedy corbuser, atau bagian tubuh lain yang menurutmu itu seksi.

Seorang pria umumnya ingin tahu bagian apa dari dirinya yang membuatmu menyukainya. Itu akan membuatnya semakin percaya diri.

3. “Aku suka ketika/saat papa…”

Rasa senang yang kamu lontarkan ketika ia melakukan sesuatu juga akan semakin membuatnya jatuh cinta padamu. Misalnya ketika ia mengusah-usap dahimu atau sedang membelai rambutmu.

Ketika kamu senang dengan apa yang ia lakukan, pujilah. Jika kamu tidak mau merespon, maka ia akan berpikir bahwa kamu tidak senang dengan apa yang ia lakukan.

Sampaikan kalimat seperti ini  : “Aku suka saat kamu memegang tanganku ketika menyebrang jalan”. Ketika ia mendengar kalimat ini, maka ia akan berusaha melakukan hal yang sama di lain waktu untuk menyenangkan pasangannya. Semakin sering kamu memujinya, maka akan semakin sering pula ia melakukan hal tersebut.

4. “Perempuan itu memperhatikanmu pa…”

Kalimat ini akan meningkatkan kepercayaan diri seorang pria. Di sisi lain, ia akan tersadar bahwa kamu baru saja melihat wanita lain yang memperhatikannya tapi kamu tidak takut untuk menyampaikannya. Hal ini akan menunjukkan bahwa kamu adalah wanita yang percaya dan yakin bahwa pasanganmu tidak mudah tergoda oleh wanita lain.

5. “Kamu benar…”

Setiap wanita tentu akan senang jika dirinya benar. Hal ini berlaku pula untuk para pria. Ketika ia memang terbukti benar, sampaikan kalimat di atas, apalagi ketika kalian sedang berdebat. Hal ini akan menunjukkan bahwa kamu adalah wanita yang rasional, yang mau mengakui kesalahan.

6. “Pa, bisa bantu tidak ??..”

Hampir semua pria sangat senang menunjukkan sikap gagahnya. Memberikan bantuan pada wanita akan membuatnya terlihat macho. Mintalah bantuan darinya dengan kalimat yang lebih lembut, tetapi jangan memintanya ketika kamu masih bisa melakukannya sendiri.

Cinta perlu disirami agar terus bertumbuh menjadi besar. Lakukan tips di atas agar pernikahanmu semakin bahagia.

0

Cara Menulis Script/Naskah Siaran Radio

September 3, 2017

Seorang penyiar radio harus paham bahwa ia menulis untuk telinga (didengar) dan bukan untuk mata (dibaca). Sebagai penulis berita untuk media berbasis suara (audio), hendaknya jurnalis berpikir bagaimana suatu kata atau gabungan kata akan terdengar mudah dicerna dan dimengerti.

Media audio dan visual (TV) mempunyai keunggulan, yaitu tanpa audio pun gambar sudah berbicara dan penonton sudah paham apa yang terjadi. Menjadi masalah untuk media audio (radio) yang kekuatan sepenuhnya ada di suara. Harus diingat bahwa kalimat berita yang ditulis oleh seorang jurnalis radio (reporter/script writer/produser/penyiar/dll) adalah untuk dituturkan atau diucapkan, didengar cuma sekali, dan bersifat segera atau harus segera disampaikan kepada khalayak.

Kata-kata yang digunakan harus tepat, tata bahasanya benar, konstruksi kalimat mudah diikuti, dan organisasi ceritanya logis. Lead-nya menarik perhatian ke unsur utama berita itu. Kecerobohan mengabaikan hal-hal mendasar tersebut akan merugikan pendengar. Pendengar tak mungkin menelepon kantor redaksi radio atau televisi dan meminta mengulangi pembacaan berita.

Oleh sebab itu dalam menulis, membuat atau menyampaikan sebuah berita atau kalimat berita agar mudah dipahami saat disampaikan atau dituturkan harus benar-benar diperhatikan beberapa hal di bawah ini :

  • Gunakan kata kerja aktif..
  • Buat naskah yang ringkas dan buang detail yang tidak perlu dan membingungkan.
  • Ubahlah kata sifat atau kata keterangan yang panjang menjadi kalimat pendek.
  • Buanglah ungkapan-ungkapan yang tidak perlu.
  • Gunakan kata-kata yang sederhana dan pendek dan tidak abstrak.
  • Gunakan kalimat yang memiliki greget agar emosi pendengar terpengaruh.
  • Mudah dibaca dan tidak menyebabkan keseleo lidah.
  • Hindari daftar, kalau perlu contohnya saja. Pengecualian, untuk data korban dalam sebuah kecelakaan.
  • Kejujuran, artinya apa yang dimuat dalam berita harus merupakan fakta yang benar-benar terjadi dan tidak memasukkan fiksi ke dalam berita.
  • Kecermatan, artinya berita harus benar-benar seperti kenyataannya dan ditulis dengan tepat.
  • Seluruh pernyataan tentang fakta maupun opini harus disebutkan sumbernya.
  • Keseimbangan, dimana agar berita seimbang harus diperhatikan: faktanya, tidak memuat informasi yang tidak relevan, tidak menyesatkan atau menipu khalayak, tidak memasukkan emosi atau pendapat ke dalam berita, tampilkan semua sudut pandang yang relevan dari masalah yang diberitakan.
  • Kelengkapan dan kejelasan, artinya berita yang lengkap adalah berita yang memuat jawaban atas pertanyaan who, what, why, when, where, dan how.
  • Keringkasan, artinya tulisan harus ringkas namun tetap jelas yaitu memuat semua informasi penting.

 

Selain itu dalam penulisan dan penyampaian berita untuk radio dan TV sebaiknya hindari hal-hal berikut ini:

Kata Klise “Terjadi”
Hindari penggunaan kata “telah terjadi” atau “terjadi” atau “akan terjadi” pada awal berita. Kata-kata seperti itu tidak dapat digunakan dalam penulisan berita untuk konsumsi media cetak, on line ataupun elektronik atau tidak boleh diucapkan oleh seorang penyiar/anchor dalam menyampaikan berita di depan kamera atau mic.

Kenapa? Kata “telah terjadi” tidak menunjukan kekinian dari sebuah peristiwa. Lebih baik langsung kepada dampak dari peristiwa tersebut. Dampak dari peristiwa tersebut menunjukan kekinian atau kebaruan. Sementara peristiwanya bisa ditempatkan sebagai keterangan kalimat.

Contoh : Telah terjadi keributan antar geng tadi malam di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat, yang menyebabkan 10 meninggal.

Sebaiknya : 10 orang meninggal akibat keributan antar geng yang terjadi di Jalan Hayam Wuruk. Jakarta Pusat tadi malam.

Juga tidak perlu menggunakan kata “terjadi”, karena peristiwa adalah sebuah kejadian dan untuk apa harus ada penegasan dengan menggunakan kata “terjadi”. Apalagi penggunaan kata “telah terjadi” yang biasanya sarat dengan asumsi dan berandai-andai tanpa didukung oleh fakta yang jelas yang bisa menimbulkan keresahan di masyarakat.

Kalimat Negatif.
Hindari kalimat negatif, karena hanya akan membuat kalimat berita menjadi panjang dan tidak jelas.

Contoh : Kepolisian tak membenarkan berita bahwa pengeboman rumah ibadah di Solo diduga didalangi Umar Patek.
Sebaiknya : Kepolisian membantah pengeboman rumah ibadah di Solo diduga didalangi Umar Patek.

Memberitakan pidato.
Memberitakan suatu pidato, sebaiknya ditulis lebih singkat, naskah berita siaran harus mudah dibaca oleh pembaca berita/penyiar/anchor, dan mudah dimengerti oleh pendengar.

Kutipan.
Tidak mengobral kutipan langsung dari narasumber. Pendengar lebih senang jika kutipan dibacakan dengan bahasa penyiar sendiri. Sebaliknya, jika kutipan itu sangat bersemangat, kontroversial, atau sangat bermakna, dan penting, maka jangan ragu-ragu menampilkannya (berupa insert).

Press Release.
Maksimal durasi press release lima menit, dengan panjang naskah 50 baris ketikan (rata-rata pembaca berita membaca 15-16 baris per menit). Di dalam 50 baris ketikan itu, dapat dimasukkan enam sampai delapan berita dari isi press release tersebut atau bisa kurang dari itu. Penulisan atau penyampaian kembali press release yang terlalu panjang akan membuat penyiar/anchor mudah terpeleset lidah (mudah salah baca) dan tentu saja membosankan bagi pendengar yang ujungnya malah bisa mengaburkan maksud yang ingin disampaikan.

Breaking News.
Breaking news biasanya telah diprogram terlebih dahulu, tetapi berita yang disiarkan dalam program ini adalah berita-berita terbaru, tanpa frame atau dengan frame pendukung materi berita. Bahkan dalam program breaking news, pengelola siaran dapat menggaet iklan, sebab program ini adalah salah satu mata acara unggulan atau masuk pada jam-jam siar utama untuk televisi. Seorang redaktur pemberitaan televisi/radio harus selektif memilah mana berita yang layak siar untuk breaking news. Durasinya dibuat sesingkat mungkin dan dapat di tindak lanjuti lebih lanjut di program selanjutnya melalui pendalaman lewat wawancara, laporan reporter, dll.

“Tulis untuk telinga, bukan untuk mata. Tuturkan, bukan baca.”

 

Sumber : orangradio.com

0

Modal Untuk Menjadi Penyiar Radio Profesional

September 3, 2017

1. Suara

Tentu saja suara menjadi modal utama seorang penyiar radio. Namun suara yang bagus bukan berarti memiliki suara layaknya seorang penyanyi. Suara seorang penyiar radio adalah suara yang berkarakter (memiliki warna suara yang khas, artikulasi yang jelas dan intonasi yang terkontrol) serta original (meski memiliki panutan, namun menjadi diri sendiri itu lebih penting). Nah, karakter suara inilah yang akan berpengaruh pada imajinasi para pendengar.

2. Kemampuan (capability)

Seorang penyiar dituntut untuk cerdas, karena ia harus mampu menyampaikan informasi dengan baik, benar dan menarik kepada pendengar. Untuk hal yang satu ini, seorang penyiar harus mampu mengendalikan emosi dan perasaannya, memiliki sense of humor serta mengembangkan feather of mind; yang artinya mengandalkan kekuatan audio untuk memvisualisasikan suatu keadaan. Untuk menunjang kemampuannya, seorang penyiar dituntut untuk berwawasan luas dan terus mengikuti perkembangan informasi.

3. Keterampilan (skill)

Berbicara yang baik, benar dan menarik tentu adalah hal yang gampang-gampang susah. Tidak mengherankan jika keterampilan utama seorang penyiar adalah keterampilan ‘ngomong’. Namun, seorang penyiar tidak hanya bertugas untuk berbicara saja, tetapi juga mengoperasikan perangkat siar (mic, mixer dan computer). Karena itulah, kemampuan yang dimaksud tidak hanya kemampuan berbicara atau menyampaikan informasi pada pendengar, tapi kemampuan dalam berbagai hal yang berkaitan dengan dunia penyiaran.

4. Sikap (attitude)

Untuk beberapa radio, attitude atau sikap ternyata menjadi poin terpenting kedua setelah memiliki suara yang bagus. Seorang penyiar (meski di radio lokal sekalipun), telah menjadi public figure yang secara tidak langsung menjadi panutan banyak orang. Karena itulah, ‘sikap‘ turut menjadi modal terpenting seorang penyiar. Selain itu, profesi ini membutuhkan pribadi-pribadi yang mampu bekerja sama dalam tim, karena radio bukan one man show, tapi industri kreatif yang melibatkan banyak orang.

5. Menguasai Bahasa Jurnalistik Tutur

Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh jurnalis tutur (reporter, presenter berita, atau anchor) dalam menggunakan bahasa jurnalistik tutur:

a. Artikulasi : Pengucapan kata-kata, frase dan kalimat serta istilah khusus harus jelas, tegas, benar dan akurat.

b. Intonasi: Nada pengucapan, naik turunnya lagu kalimat atau langgam nada kalimat harus tepat. Sehingga penjiwaan dalam bertutur akan terdengar cukup baik. Intonasi yang keliru dapat membuat pemaknaan dan penafsiran kalimat jadi keliru. Seorang jurnalis tutur harus berusaha agar pendengar (radio) dan pemirsa (televisi) tidak salah dalam menafsirkan tuturan lantaran intonasi yang tidak tepat.

c. Aksentuasi: Penekanan atau penegasan terhadap kata atau kalimat yang biasanya akan berpengaruh terhadap maksud atau makna kalimat.

d. Speed: Cepat lambatnya pengucapan kalimat. Terlalu cepat akan membuat artikulasi tidak jelas dan intonasi tidak bermain. Speed yang terlalu lambat akan membuat pendengar atau pemirsa bosan dan tidak menarik dari segi kemasan berita atau informasi yang akan disampaikan.

e. Pemenggalan kata tau kalimat: Pemengalan kata atau kalimat harus tepat dan cermat. Pemenggalan (phrasering) yang salah akan terdengar aneh dan lucu serta bisa menyesatkan pendengar atau pemirsa.

f. Menguasai kosa kata : Seorang jurnalis tutur harus mengikuti perkembangan perkosakataan. Menguasai kosa kata dengan baik, berarti acara atau program yang sedang kita presentasikan akan lebih menarik, dinamis dan tidak monoton. Penguasaan kosa kata juga termasuk menguasai kosa kata kontemporer dan kosa kata khusus yang hanya dikuasai oleh kalangan tertentu, seperti praktisi perbankan, pasar uang, pasar modal, seniman, politikus, militer, kedokteran, sampai kalangan anak muda (bahasa gaul).

6. Hindari salah ucap atau salah sebut
Salah ucap atau salah sebut akan mempengaruhi kredibililitas kita di mata publik (pendengar atau pemirsa). Salah ucap biasanya terjadi pada penyebutan istilah-istilah asing dari Bahasa inggris, Perancis, Jerman atau Bahasa Latin.

7. Hindari pengucapan, bunyi atau suara yang tidak perlu

Contohnya: “e..e..e’, ‘ehm..ehm..’, ‘apa namanya’, ‘apa’, dan ‘ini’. Bisanya muncul pada saat wawancara dengan narasumber atau pendengar.

8. Spoken reading

Seorang jurnalis tutur harus mampu menyampaikan suatu teks kaliamat, baik itu lead berita, informasi dari pendengar, lead wawancara atau berita yang dikutip dari media lain tidak seperti membaca, tetapi seperti bertutur sapa secara natural dengan pendengar atau pemirsa.

9. Menguasai pemilihan kata (diksi)

Seorang jurnalis tutur harus mampu memilih dan memilah kata-kata mana yang tepat digunakan sesuai dengan konteks dan situasi dan mana yang tidak boleh digunakan. Kita harus mengerti dan mengetahui mana bahasa yang standar atau baku dan mana yang tabu atau tidak.

10. Memiliki kemampuan bahasa yang baik

Bahasa adalah hal yang paling mendasar dalam jurnalistik tutur. Oleh sebab itu seorang jurnalis tutur harus mengetahui ilmu kebahasaan, sekalipun hanya pada batas-batas yang sederhana dan umum seperti mengetahui kosa kata, ihwal kata dan imbuhannya, ejaan, tata kalimat, tata alenia dan pilihan serta pilahan kata dan kalimat. Sehingga memiliki kemampuan yang memadai paling tidak untuk membuat atau memperbaiki lead berita yang jelek.

11. Ramah, santun dan berempati

Seorang jurnalis tutur ketika berinteraksi dengan narasumber, pendengar atau pemirsa sebaiknya santun dan ramah. Gunakanlah bahasa dan intonasi yang tidak kasar. Kritis bukan berarti menggabaikan keramahan dan kesopanan. Disinilah diperlukan kepiawaian seorang jurnalis tutur untuk mengemas untuk mengemas kata dan kalimat menjadi pertanyaan yang kritis, tetapi dengan penyampaian yang ramah dan sopan, sehingga narasumber akan merasa nyaman. Jika narasumber sudah merasa nyaman, maka informasi yang ingin diketahui publik akan udah digali.

12. Mampu mengendalikan emosi

Seorang jurnalis tutur mutlak harus dapat mengendalikan emosi ketika berada ditengah pendengar atau pemirsa. Kita harus pintar bermain sandiwara, meskipun pada saat yang sama kita sedang tidak mood, stres, marah, kesal, jenuh dan tidak dalam kondisi fisik yang prima. Seorang jurnalis tutur harus pandai menyembunyikan perasaan-perasaan tersebut ketika siaran di radio atau mempresentasikan berita di televisi sehingga tidak terlihat dan tergambar oleh pendengar atau pemirsa. Intinya seorang jurnalis tutur harus selalu memiliki semangat untuk tersenyum. Pikirkan saja hal-hal yang menyenangkan sebelum kita hadir ditengah pendengar atau pemirsa, mendengarkan musik atau bersenda gurau dengan rekan kerja.

13. Kemampuan mendengar yang baik

Seorang penyiar mutlak memiliki kemampuan mendengar dan menyimak apa yang disampaikan oleh orang yang berinteraksi dengannya, baik itu pendengar atau narasumber. Ketidakmampuan untuk mendengar dan menyimak hanya membuat kesan anchor, reporter atau presenter tidak cerdas, tidak tanggap dan telmi (telat mikir). Kita harus mampu secara cepat menangkap dan merespon maksud yang disampaikan lawan bicara kita, sehingga kita dengan mudah mengajukan kembali pertanyaan berikutnya dengan pertanyaan yang pas dan cerdas.

13. Vitalitas

Seorang jurnalis tutur dituntut untuk tampil prima, dinamis dan bersemangat. Kalau sedang merasa sakit, jengkel dan marah jangan sampai tercermin dari suara yang kita keluarkan.

0

Teknik Vokal Untuk Menampilkan Suara Terbaik Sebagai Penyiar Radio

Agustus 27, 2017

 

Seorang penyiar radio harus rajin mengolah vokal suara. Suara merupakan modal utama bagi seorang penyiar, karena semua radio menjual suara seorang penyiar untuk menarik iklan yang merupakan sumber pendapatan bagi radio itu sendiri. Juga seorang penyiar yang bagus akan banyak diminati oleh pendengar radio tersebut. Tentunya harus mempunyai teknik vokal yang bisa dipelajari seperti : cara menarik nafas, cara mengeluarkan nafas, dan cara menahan napas.

Penyiar radio harus lancar bicara dengan kualitas vokal yang baik. Teknik vokal yang diperlukan antara lain kontrol suara (voice control) selama siaran, meliputi pola titinada (pitch), kerasnya suara (loudness), tempo (time), dan kadar suara (quality).

Suara terbaik penyiar radio akan muncul jika ia mampu melaksanakan hal-hal di bawah ini, terkait teknik vokal –yaitu teknik mengeluarkan suara yang baik dan benar.

1. Diafragma
Kualitas suara yang diperlukan seorang penyiar adalah “suara perut”, suara yang keluar dari rongga badan antara dada dan perut –dikenal dengan sebutan “suara diafragma”. Jenis suara ini akan lebih bertenaga (powerful), bulat, terdengar jelas, dan keras tanpa harus berteriak.

Untuk bisa mengeluarkan suara diafragma, menurut para ahli vokal, bisa dilakukan dengan latihan pernafasan, antara lain:
a. Ucapkan huruf vocal A, I, U, E, O dengan panjang-panjang. Contoh: tarik nafas, lalu suarakan AAAAAaaaaaaaaaaaaa… (dengan bulat), terus, sampai habis nafas. Dilanjutkan lagi untuk huruf lainnya.
b. Suarakan AAAAaaaaaaa… dari nada rendah, lalu naik sampai AAAAaaaaaaa… nada tinggi.
c. Ambil napas pelan-pelan. Ketika diafragma dirasa udah penuh, buang pelan-pelan. Untuk nambah power, buang nafas itu, hela dengan cara berdesis: ss… ss… ss… (putus-putus), seperti memompa isi udara keluar. Akan tampak diafragma Anda bergerak.
d. Saat mengambil napas, bahu jangan sampai terangkat. Kalau terangkat, berarti Anda bernapas dengan paru-paru. Contoh: ketika orang sedang ambil napas mendadak karena kaget, ia akan mengambil napas dengan paru-paru. Makanya, orang kaget suka megang dada.

2. Intonasi
Intonasi (intonation) adalah nada suara, irama bicara, atau alunan nada dalam melafalkan kata-kata, sehingga tidak datar atau tidak monoton. Intonasi menentukan ada tidaknya antusiasme dan emosi dalam berbicara.

Misalnya, mengucapkan “Bagus ya!” dengan tersenyum dan semangat, akan berbeda dengan mengucapkannya dalam ekspresi wajah datar, bahkan nada sinis. Latihan intonasi bisa dengan mengucapkan kata “Aduh” dengan berbagai ekspresi –sedih, kaget, sakit, riang, dan seterunya.

3. Aksentuasi
Aksentuasi (accentuation) adalah logat atau dialek. Lakukan penekanan (stressing) pada kata-kata tertentu yang dianggap penting. Misal, “Saat sakit, tindakan terbaik adalah dengan minum obat”; atau “Saat sakit, tindakan terbaik adalah dengan minum obat”; “Saat sakit, tindakan terbaik adalah dengan minum obat”.

Aksentuasi dapat dilatih dengan cara menggunakan “konsep suku kata” -dan, yang, di (satu suku kata); minggu, jadi, siap, Bandung (dua suku kata); bendera, pendekar, perhatian (tiga suku kata); dan sebagainya. Ucapkan sesuai penggalan atau suku katanya!

4. Speed (tempo)
Gunaka kecepatan (speed) dan kelambatan berbicara secara bervariasi. Kecepatan berpengaruh pada kejelasan (clarity), juga durasi. Kalo waktu siaran sudah mepet, kecepatan diperlukan.

5. Artikulasi atau pronounciation (pengucapan kata)
Artikulasi (articulation), yaitu kejelasan pengucapan kata-kata. Disebut juga pelafalan kata (pronounciation). Setiap kata yang diucapkan harus jelas, misalkan harus beda antara ektrem dengan eksim. Seringkali, dijumpai kata atau istilah yang pengucapannya berbeda dengan penulisannya, utamanya kata-kata asing seperti “grand prix” (grong pri), atau nama-nama orang Barat — -”Tom Cruise” (Tom Cruz), George Bush (Jos Bus), dan banyak lagi.

6. Be Yourself
Keaslian (naturalness) suara harus keliar. Bicara jangan dibuat-buat. Anda harus menjadi diri sendiri, be yourself, tidak meniru orang lain.

7. Ceria
Kelincahan (vitality) dalam berbicara sehingga dinamis dan penuh semangat, cheerful! Anda harus ceria selalu. Jangan lemas, lunglai, nanti terkesan tidak mood, apalagi ”judes”! Ingat, penyiar adalah penghibur, entertainer!

8. Hangat
Keramahtamahan (friendliness) sangat penting. Sebagai penyiar radio profesional, Anda harus memiliki “sikap udara” (on air attitude) yang baik, harus sopan, hangat, dan akrab. Penyiar radio profesional menjadi teman dekat para pendengarnya, meski di darat tidak kenal dan tidak pernah bertemu.

Sumber : internet

0

Ingin mendapatkan email inspiratif dari Purba Kuncara langsung ke inbox Anda ?

Silahkan daftar di mailing list purbakuncara.com