Perbedaan Listrik PLN 1 Phase dan 3 Phase

Maret 3, 2017

Bagi Anda yang berkecimpung di dunia peralatan yang membutuhkan watt besar, seperti di dunia pemancar radio atau industri, tentu tidak asing dengan istilah listrik 3 Phase. Tapi bagi Anda yang belum tahu atau mau tahu, berikut ini ulasannya :

1. Perbedaan dasar

Semua generator dan jaringan listrik PLN mempunyai sistem 3 fasa. Masing-masing fasa berbeda 120°, sehingga kalau diukur tegangannya antar fasa sebesar 380 Volt (untuk sistem 220 V).

Listrik 1 fasa adalah dengan memakai salah satu fasa dan netral/ nol, tegangannya 220 V. Listrik PLN di jalanan itu memiliki 3 phasa, tapi yang masuk kerumah hanya 1 phasa karena umumnya rumah tidak memerlukan daya besar. Misalnya yang kerumah Anda adalah Phase R, tetangga Anda mungkin Phase S, dan tetangga yang lain Phase T.

 

2. Jumlah Kabel

Listrik satu phasa, mempunyai kabel hanya dua, satu netral dan satunya lagi line atau hidup (yang nyetrum itu loh) .

Listrik 3 fasa adalah dengan memakai semua fasa + kabel nol (kalau perlu). Listrik tiga fasa mempunyai kabel empat : Satu netral, dan tiga kabel line atau hidup, yaitu R, S, dan T. Tapi masing masing line berbeda fasa (gelombang) satu sama lain, sehingga tidak bisa digabung antara phase satu dan phase lainnya, karena akan korsleting, walaupun sama sama nyetrum (hidup).

 

3. Peruntukan

Kalau untuk rumah tangga, biasanya menggunakan satu phasa. Untuk Industri besar, atau hotel, biasanya memakai 3 phasa.

 

4. Keuntungan dan kekurangan

Keuntungan 3 fasa :
– Menyediakan daya listrik yang besar ( biasanya pada industri menengah dan besar )

– Karena menggunakan tegangan yang lebih tinggi, maka arus yang akan mengalir akan lebih rendah untuk daya yang sama. Sehingga untuk daya yang besar, kabel yang digunakan bisa lebih kecil, sehingga lebih hemat biaya kabel.

– Untuk motor induksi yang memerlukan daya bersar, listrik 3 fasa tidak memerlukan kapasitor lagi untuk menggerakan motor.

Sedang untuk 1 fasa, jika membutuhkan daya yang besar, maka ukuran kabel juga harus disesuaikan agar tidak panas dan terjadi pemborosan daya. Karena semakin besar arus yang lewat, maka ukuran kabelnya pun juga harus semakin besar. Untuk besarnya ukuran kabel, bisa Anda baca di artikel lain di blog ini.

0

Jenis-jenis Kabel Penangkal Petir

Maret 1, 2017

Kabel Penangkal Petir

Selain Terminal Head, kabel merupakan komponen utama dari instalasi penangkal petir yang memiliki fungsi sebagai media penghantar arus petir yang menyambar air terminal penangkal petir yang berada di atas menuju sistem grounding yang telah tersedia. Sehingga arus petir dapat mengalir dan cepat ternetralkan oleh tanah yang sebagaimana diketahui sebagai media netral alam.

Berbagai macam kabel penghantar penangkal petir pada umumya, yaitu:

1. KABEL BC (bare core)

kabel penangkal petirKarakteristik kabel BC ialah tidak memiliki isolator alias telanjang. Jadi jenis kabel ini hanya terdiri dari inti kabel saja yang disebut bare core. Kabel BC sering digunakan pada penghantar penurunan (down conductor) instalasi penangkal petir jenis runcing / konvensional atau lebih sering digunakan dalam ground system (pembumian). Hal ini dikarenakan menggunakan kabel BC dengan penampang 50 mm lebih ekonomis dan juga telah memenuhi standarisasi minimum dari penghantar penurunan instalasi penangkal petir. Hanya saja seperti diketahui bahwa kabel BC tidak memiliki isolator pelindung, sehingga dikhawatirkan terjadi induksi sambaran petir dan loncatan arus pada material konduktor. Jadi agar aman, maka kabel BC sebaiknya dibungkus dengan pipa paralon (PVC).

 

2. KABEL NYY

Kabel NYYKarakteristik kabel NYY ialah memiliki dua buah isolator (hal ini bisa dilihat dari kode YY yang ada pada kabel). Isolator pada kabel berfungsi melindungi dari induksi dan loncatan arus antara inti kabel dengan material lain dengan sifat konduktor penangkal petir (penghantar). Dengan adanya dua buah isolator maka induksi dan loncatan dapat diredam dengan sangat kecil hingga nyaris tidak terjadi. Untuk ukuran yang sering dipergunakan dalam suatu sistem pemasangan instalasi penangkal petir yaitu ukuran penampang 25 mm2, 35 mm2, 50 mm2 hingga 120 mm2. Umumnya ukuran kabel NYY yang sering digunakan dalam instalasi penangkal petir adalah ukuran luas penampang 25 mm2 sampai 70 mm2. Sebagaimana diketahui standarisasi untuk ukuran penampang kabel penghantar penurunan (down conductor) adalah minimal 50 mm2, sehingga untuk pemilihannya disesuaikan dengan kebutuhan dan juga memperhatikan faktor biaya.

Bedakan antara luas penampang dan diameter. Misalnya untuk kabel dengan luas penampang 70 mm2, berarti diameternya sekitar 9,5 mm. Sedangkan luas penampang 50mm2, diameternya sekitar 8 mm. Sedangkan kabel dengan luas penampang 35 mm2, diameternya sekitar 6,6mm.

Kabel NYY 70mm ( Kabel Grounding 70 mm )
Anda bisa membelinya di https://www.tokopedia.com/visiotekindo/kabel-nyy-70mm-kabel-grounding-70-mm

3. KABEL NYA

NYA CableKarakteristik kabel NYA ialah memiliki satu buah isolator (hal ini bisa dilihat dari kode YA yang ada pada kabel). Isolator pada kabel berfungsi melindungi dari induksi dan loncatan arus antara inti kabel dengan material lain dengan sifat konduktor (penghantar). Dengan adanya isolator, maka induksi dan loncatan dapat diredam dengan sangat kecil hingga nyaris tidak terjadi. Untuk ukuran yang sering dipergunakan dalam suatu sistem pemasangan instalasi penangkal petir yaitu ukuran penampang 25 mm, 35 mm, 50 mm hingga 120 mm.

 

4. KABEL COAXIAL

Karakteristik kabel coaxial ialah memiliki banyak isolator, konduktor inti kabel coaxial terdapat dua buah yang masing-masing memiliki luas penampang 35 mm. Karakter kabel coaxial sama seperti kabel NYFGbY, yang dimana terdapat suatu rangkaian isolator yang terdiri dari banyak material yang menjadi satu kesatuan. Isolator pada kabel berfungsi melindungi dari induksi dan loncatan arus antara inti kabel dengan material lain dengan sifat konduktor (penghantar). Untuk ukuran kabel coaxial pada umumnya 2 x 35 mm. Kabel ini termasuk jenis kabel penghantar penurunan dengan spesifikasi yang tinggi, serta kualitasnya terbaik diantara jenis kabel penghantar penangkal petir lainnya.

Jadi secara umum kabel yang dibutuhkan dalam instalasi penangkal petir adalah kabel yang memiliki luas penghantar 25-50 mm. Standarnya minimal 50 mm. Bila lebih besar penampangnya, maka kemampuan penghantarnya akan lebih baik (Misal 70 mm atau 80mm).

Sedangkan jenis kabel penangkal petir tergantung dari keadaan jalur instalasi yang dilewati, ada 3 (tiga) macam jalur kabel, yaitu:

  • Out door cable installation
  • In/out door cable installation
  • In door high cable installation

 

OUT DOOR INSTALASI KABEL

Bila instalasi kabel penghantar diletakkan di luar bangunan dan jauh dari instalasi lain (listrik, data) ataupun jauh dari jangkauan penghuni, maka kabel penangkal petir bisa menggunakan BCC minimal 25-50 mm (bare copper conductor) atau BAC (bare alumunium conductor) atau istilah pasarnya Kabel Telanjang  sudah cukup bisa digunakan. Pertimbangan menggunakan kabel penangkal petir jenis ini adalah murah. Kekurangannya yakni dari segi estetika akan kurang sekali walau bisa di siasati dengan menyelubungi dengan pipa paralon / PVC Conduit.

 

IN / OUT DOOR INSTALASI KABEL

Sedangkan bila kabel penghantar diletakkan di sisi dalam bangunan dan dihindarkan dari instalasi lain (listrik, data) ataupun jauh dari jangkauan aktifitas penghuni minimal 2 mtr, maka kabel penangkal petir bisa menggunakan NYY (double Isotated) dengan pertimbangan kabel ini sudah berisolasi dan cukup mampu menahan induksi petir ( side flashing ) walaupun sifat anti side flashingnya minimal.

Penggunaan Conduit Cable PVC di posisi yang dekat aktifitas juga sangat disarankan sebagai bentuk tambahan estetika dan keamanan.

 

INDOOR HIGH  INSTALASI KABEL

Dan bila jalur instalasi tidak bisa dihindarkan dari instalasi lain ( listrik, data, kontrol dll) atau kata lain harus berdekatan dan berjajar bersebelahan, maka kabel penangkal petir jenis HVSC (High Voltage Single Core) yang harus digunakan, karena hanya kabel inilah  yang mampu menahan tegangan yang besar kemungkinan akan menembus isolasi / induksi arus petir, atau istilahnya adalah anti side flashing. Misal kabel penghantar dipasang bersamaan di kabel trey power.

Dari beberapa kabel penangkal petir diatas, untuk down conductor instalasi penangkal petir biasanya banyak yang menggunakan kabel NYY antara 25-50mm, atau kabel BC 35mm (full) diselubungi dengan paralon. Sedangkan untuk grounding system penangkal petir (pembumian), banyak yang menggunakan kabel BC antara 35-50mm.

0

Cara Kerja Surge Arrester Listrik

Maret 1, 2017

Tegangan Surge secara teknis disebut Spike (Tegangan Paku) atau Transien, biasanya terjadi pada jaringan listrik suatu bangunan, yaitu berupa kenaikan tegangan sangat cepat dengan panjang gelombang pendek.

Tegangan Surge dapat disebabkan oleh kontaminasi arus petir yang masuk lewat kabel terbuka PLN atau oleh yang lainnya, misal :

  • Switching (On -Of) kontaktor yang berulang untuk daya besar di sebuah jaringan listrik
  • Pemutus tenaga atau switching capasitor
  • Dan juga bisa karena colokan listrik yang ngefong ataupun nggejret (timbul bunga api) saat menancapkan colokan.

Tegangan Surge tersebut dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan listrik dan peralatan listrik karena tegangan surge ini dapat menembus isolasi yang jauh di luar batas kemampuan isolasi peralatan atau akan memberikan “tegangan kejut” pada komponen sensitif di perangkat elektronik.

Saya pernah mengalami 2 speaker aktif digital saya seharga belasan juta rusak gara-gara saya mencolokkan colokan charge HT dan nggejret (timbul bunga api). Langsung mati seketika dan susah dibetulkan karena komponennya menggunakan SMD.

Tegangan Surge Petir sangat sering mengakibatkan kerusakan fatal karena tegangan paku (Volt) tinggi sekali. Tingginya tegangan paku ini disebabkan karena terjadinya sambaran petir, baik secara langsung maupun tidak langsung pada jaringan kabel listrik di dalam suatu bangunan. Dengan dipasangnya Arrester Listrik, maka hal ini bisa dihindari.

 

 

Pengertian Surge Arrester

Surge Arrester adalah alat pelindung system kelistrikan terhadap tegangan lebih tanpa harus memutuskan jaringan sesaatpun. Surge arrester adalah alat yang dapat digunakan untuk melindungi peralatan elektronik dari induksi petir. Induksi petir dapat menyebabkan rusaknya peralatan elektronik seperti komputer, pabx, telepon, cctv dan dvr, dll. Induksi petir ini dapat terjadi pada komponen yang terhubung langsung dengan listrik dan melalui jalur data dan telekomunikasi ( seperti line telepon, internet, radio telekomunikasi, tv, antena ).

 

Fungsi Surge Arrester

Surge arrester mempunyai fungsi untuk menetralkan arus petir yang masuk melalui jalur yang dilindunginya. Apabila ada arus yang lewat melebihi dari kapasitas maximumnya (Imax), maka arrester tersebut akan memblokir kemudian memutuskan dengan rangkaian elektronik didalamnya. Tegangan lebih tersebut dibuang ke grounding. Makanya dibutuhkan juga adanya sistem grounding yang bagus agar arrester dapat berfungsi maksimal.

Surge Arrester berfungsi untuk membelokan tegangan paku dengan menggunakan komponen atau perangkat Metal Oxyde Vasitor (MOV). Komponen MOV bekerja dengan prinsip kerja mirip dengan Kapasitor Nonpolar, tetapi tanpa penyimpanan muatan listrik di MOV tersebut. Jadi jika ada tegangan masuk yang melebihi batas MOV, maka tegangan listrik ini akan di buang ke grounding melalui salah satu kutup MOV. Dengan sistem kerja Surge Arrester tersebut, maka perangkat ini akan memberikan pengamanan terhadap peralatan elektronik akibat tegangan kejut atau induksi petir.

 

Cara Kerja Surge Arrester

Struktur material dari Surge Arrester terdiri dari dua buah lempeng logam yang didekatkan dengan atau tanpa material elektrikum. Untuk lempeng pertana di hubungkan ke jalur kabel yang di amankan dan lempeng kedua ke grounding tempat pelepasan tengangan lebihnya.

Saat terjadi lonjakan tegangan di sebuah jaringan kabel, maka pada sisi kutup Anoda Surge Arrester akan melepaskan lonjakan tegangan ke arah Katoda ( terhubung ke grounding ). Ambang batas dari seberapa besar tegangan mulai meloncat sangat tergantung dari  : 1). jarak kerenggangan kedua kutub anoda, 2). jenis material di sela-selanya. Semakin panjang kerenggangan dari katoda, maka semakin besar ambang tegangan buangnya dan begitu juga sebaliknya. Material sela / elektrikum juga mempengaruhi. Material yang seringkali di gunakan : Udara bebas , Metal Oxide varistor  dan keramik. Ketiga material ini karakter berbeda karakternya.

Didalam pemasangan penangkal petir, surge arrester merupakan jenis Internal Protection & Eksternal Protection.

 

Kapasitas Surge Arrester

Menyangkut kapasitas / kemampuan perangkat surge arrester listrik petir, satuan yang dipakai adalah I (Ampere). Maksimal besar arus yang bisa dibelokkan ke grounding disingkat dengan Imax (Ampere Maksimal) dalam satuan kA. Jadi semakin besar nilai Imax, maka akan semakin besar arus yang dapat di belokkan ke grounding. Tetapi konsekuensinya yaitu Imax berbanding terbalik dengan tingkat sensitif surge arrester.

%image_alt%

(Arrester listrik merek OBO untuk kebutuhan industri dengan daya listrik yang besar)

Bila Imax besar, maka tegangan yang masih bisa masuk/tembus ke jaringan listrik juga besar. Sebagai simulasi :

“Sebuah surge arrester listrik dengan Imax = 20 kA, maka tegangan masih bisa masuk sebesar 500 Volt. Bila dibesarkan menjadi Imax = 40 kA, maka tegangan yang masuk bisa menjadi 600 Volt atau semakin besar”. Begitulah gambaran sederhananya.

Solusinya adalah dengan pemasangan surge arrester listrik petir berlapis, dengan maksud bila ada tegangan yang berhasil tembus di surge arrester tahap I, akan bisa di hadang oleh surge arrester tahap II. Dengan gambaran mudah sebagaimana pemecah gelombang di pantai. Pemasangan instalasi surge arrester berlapis tentunya harus disesuaikan dengan keperluan dari suatu bangunan tersebut dan harus mempertimbangkan aspek biaya. Jadi arrester 1 Imax 10kA, lalu disambung ke arrester 2 dengan Imax 20kA akan lebih aman.

Jadi ukuran surge arrester tidak ditentukan oleh besarnya daya listrik yang dilewati, melainkan oleh besarnya Imax. Tapi untuk amannya, sebuah Surge Arrester merek OBO V20-C umumnya maksimal 27.500 Watt.

Surge arrester sedapat mungkin dipasang di dekat titik masuk instalasi pada struktur bangunan dan harus di upayakan ditempatkan bersama didalam PHB utama. Arrester harus dihubungkan dengan grounding melalui konduktor (kabel penyalur) yang jalur kabelnya sependek mungkin. Akan lebih baik jika grounding arrester digabungkan dengan grounding instalasi listrik. Penggabungan grounding ini sangat dianjurkan dengan menggunakan Ikatan Penyama Potensial (IPP) yang menuju grounding. Instalasi surge arrester harus dipasang di tempat yang tidak akan menjadi elemen pemicu kebakaran, misal box logam.

PHB adalah singkatan dari Papan Hubung Bagi. Menurut definisi PUIL, adalah suatu perlengkapan untuk mengendalikan dan membagi tenaga listrik dan atau mengendalikan dan melindungi  sirkuit dan pemanfaat tenaga listrik. Adapun bentuknya dapat berupa box, panel, atau lemari.

Berbagai kemungkinan penempatan dalam pemasangan surge arrester untuk sistem TN, TT dan berlaku prinsip yang disampaikan sebelumnya. Penempatan surge arrester pada instalasi konsumen yang dipadukan dengan Gawai Proteksi Arus Lebih (GPAL) ada juga yang menempatkan surge arrester yang dipadukan dengan gawai proteksi arus sisa.

 

Jenis-Jenis Surge Arrester

Berbagai jenis Surge Arrester yang biasa digunakan untuk mengamankan keperluan perangkat elektronik diantaranya :

  • Arrester Listrik
  • Arrester Antena
  • Arrester Data

Untuk listrik terdapat beberapa tahapan :

1. Proteksi panel induk
2. Proteksi panel pembagi
3. Proteksi pada alat

Untuk data lebih bervariasi:

1. Proteksi Server, Router dan PC ( RJ45 interface )
2. Proteksi PABX dan line telepon
3. Proteksi radio dan satelit telekomunikas ( BNC,N,F connector )
4. Proteksi mesin absensi ( RS232 interface )
5. Proteksi untuk CCTV dan DVR

Dari rancangan material Surge Arrester pada dasarnya sama. Yang menjadikan kegunaan berbeda di karenakan perbedaan jenis material selanya ( elektrikum ), dimensi dan mutu serta kualitas dari material katodanya. Untuk kebutuhan arrester daya rendah, semisal arrester Level 3, material katoda terbuat dari Kertas Tembaga dan akan jauh berbeda untuk arrester Level 1, material katoda berupa Karbon Steel tahan karat . Sedang material elektrikumnya untuk Level 1 udara saja. Material Metal Oxide Varistor / MOV acapkali dimanfaatkan untuk kebutuhan arrester menengah sampai kecil karena sifatnya yang semi isolator. Dengan perbedaan material katoda dan elektrikum di sebuah arrester akan membuat karakteristik komponen beragam.

Kebutuhan Surge arrester listrik membutuhkan setidaknya 2 tahap pengamanan : Level 1 dengan kategori mampu memindahkan energi yang besar ke ground, dan Level 2 dengan kategori menengah.

 

Aplikasi Surge Arrester

Salah satu merek arrester listrik yang umum digunakan untuk rumah tangga dan industri kecil adalah merek APC dan belkin. Sedangkan untuk kebutuhan industri, yang sering dipakai adalah merek OBO (biasanya ditaruh di box panel, dengan model mirip seperti MCB).

%image_alt%

%image_alt%

2 Gambar di atas adalah untuk kebutuhan rumah tangga yang bisa dihubungkan langsung dengan peralatan elektronik. Yang paling penting dan wajib untuk diingat adalah : di colokan arrester di atas yang di hubungkan ke PLN ada 3, yaitu : LIVE (kabel positif), Neutral dan ground. Jika Anda colokkan arrester tersebut di colokan yang tidak ada groundnya, atau ada groundnya tapi groundingnya kurang bagus, maka hasilnya akan SIA-SIA!!!! Kenapa sia-sia ? karena lonjakan arus dari petir tidak bisa tersalurkan dengan baik. Demikian pula untuk arrester jenis lain berlaku hal yang sama.

Sedangkan untuk kebutuhan data, biasanya menggunakan merek UBNT ataupun APC.

Merek lainnya tidak masalah asal sudah SNI atau memenuhi standar internasional.

Dengan memahami konsep penangkal petir, maka Anda tidak perlu terlalu kuatir lagi peralatan mahal Anda rusak gara-gara petir 🙂

 

Cara pemasangan surge arrester untuk kebutuhan industri dan rumah tangga

Komponen yang dibutuhkan untuk daya PLN 3500 watt :

  1. Surge Arrester : Surge Arrester Obo V20-C 1phase 280v Ac + N-Pe C25-B+C
  2. MCB : RCBO slim (MCB + ELCB) 1P+N 16A 30mA Schneider Merlin Gerin – DOM12522
  3. Box Panel : untuk menempatkan surge arrester dan MCB di dinding dan tempat bus bar untuk distribusi listrik ke peralatan

 

Skema : Meteran PLN ==> Surge Arrester ==> RCBO ==> Peralatan

Surge Arrester Obo V20-C 1phase 280v Ac + N-Pe C25-B+C

Harga surge arrester di atas sekitar 700ribuan di tokopedia untuk listrik 1 phase. Anda bisa melihatnya di https://www.tokopedia.com/ria-electr1k/surge-arrester-obo-v20-c-1phase-280v-ac-n-pe-c25-bc

Di situ selain V20-C, ada tambahan N-PE C25-B+C. Apa fungsi N-PE ini ?

Komponen yang digunakan untuk mengurangi tegangan lebih antara fase dan konduktor netral adalah zinc oxide varistors. Akibatnya, Anda mendapatkan ambang batas pelindung sangat rendah (sensitif), loncatan arus yang tinggi dan respon waktu yang pendek. Pengurangan tegangan berlebih antara netral dan proteksi konduktor dilakukan oleh pelepasan percikan muatan listrik.

 

RCBO slim (MCB + ELCB) 1P+N 16A 30mA Schneider Merlin Gerin – DOM12522

ELCB atau Earth Leakage Circuit Breaker secara fisik mirip dengan MCB pada umumnya. Namun perbedaan utama dari unit tersebut adalah membatasi kebocoran listrik ke ground yang biasanya terjadi karena seseorang tersengat listrik atau terjadi kontak dengan baja konstruksi saat pemasangan.

RCBO adalah alat proteksi terhadap bahaya sengatan listrik / arus bocor (berfungsi sebagai ELCB) sekaligus proteksi beban lebih (berfungsi sebagai MCB) dalam 1 komponen. Besarnya yg hanya sebesar 1 modul MCB membuat mudah untuk diaplikasikan sebagai modul tambahan maupun yang ingin meng upgrade MCB menjadi Berfungsi ganda.

Spesifikasi :
Proteksi beban lebih : 16 Ampere
Proteksi Arus Bocor : 30mA (untuk proteksi terhadap manusia)

  • Perlindungan terhadap beban lebih (MCB) dan bahaya sengatan listrik (ELCB: 30mA)
  • Perlindungan dari potensi bahaya kebakaran

Cocok untuk aplikasi distribusi akhir untuk rumah, apartemen, gedung dll.

Anda bisa membelinya di https://www.tokopedia.com/listrikshopbdg/rcbo-slim-mcb-elcb-1pn-16a-30ma-schneider-merlin-gerin-dom12522

 

 

Perbedaan Fungsi ELCB Dengan MCB Umum Serta Kelebihannya

Tadi sudah kita bahas tentang RCBO yang merupakan gabungan antara ELCB dan MCB. Lalu apa perbedaan ELCB dan MCB ?

ELCB atau Earth Leakage Circuit Breaker secara fisik mirip dengan MCB pada umumnya. Namun perbedaan utama dari unit tersebut adalah membatasi kebocoran listrik ke ground yang biasanya terjadi karena seseorang tersengat listrik atau terjadi kontak dengan baja konstruksi saat pemasangan. Unit tersebut lebih bersifat pengaman terhadap manusia dari pada sekedar pembatas besarnya arus.

Jika pada MCB, arus hanya akan diputus jika arus listrik yang melaluinya melampau rating yang tertera pada MCB, sehingga pada instalasi listrik yang besar, fungsi pengaman untuk manusia tidak banyak bermanfaat. MCB baru akan memutus listrik jika telah mencapai arus maksimal yang diijinkan. Padahal, manusia tidak akan bertahan dalam kondisi tersengat listrik hingga arus tertentu sebelum MCB bekerja.

Pada ELCB memiliki fungsi yang berbeda, yaitu mendeteksi kebocoran listrik ke ground. Bila seseorang tersetrum listrik dalam jaringan tersebut, arus akan dengan sendirinya dibuang ke tanah melalui tubuh. Fungsi ELCB adalah untuk mendeteksi kondisi tersebut.

Bila seseorang mengalami tersengat listrik, maka unit ini akan dapat bekerja dalam waktu kurang dari 0.1 detik untuk memutus arus listrik. Selain melindungi manusia, ELCB juga sangat berguna untuk melindungi peralatan yang sangat sensitif terhadap kebocoran listrik akibat kesalahan instalasi maupun kerusakan instalasi karena berbagai hal.

Tentu saja ELCB juga memiliki fungsi seperti halnya MCB, yakni membatasi arus dan melindungi berbagai alat dari kerusakan akibat kelebihan beban. Dari segi harga, ELCB lebih mahal dari pada MCB umumnya. ELCB terdiri dari unit yang bekerja sebagaimana sebuah MCB dan sebuah unit lain yang bekerja mendeteksi kebocoran listrik.

ELCB bahkan dapat memutus arus saat tersentuh langsung dengan konduktor listrik terutama pada beberapa jenis yang memiliki sensitifitas yang sangat tinggi. Perbedaan fungsi ELCB dengan MCB umum serta kelebihannya inilah yang menyebabkan unit ini menjadi standar pemasangan listrik di berbagai negara yang mengisyaratkan keamanan konsumen.

Unit tersebut sangat banyak dipasang pada instalasi umum, hotel, taman dan berbagai fasilitas umum yang mengharuskan keamanan yang lebih ketat untuk keamanan manusia.

Sumber :

http://www.3s-vn.com/images/sanpham/news_download23.pdf

0

Tips Mudah Memasang Grounding Penangkal Petir

Maret 1, 2017

Membuat grounding penangkal petir itu pekerjaan yang susah-susah gampang. Menjadi susah jika tidak mengetahui cara membuat grounding yang benar sehingga berfungsi dengan baik. Sebelumnya untuk mudah dipahami, grounding yaitu sebagai media penghantar antara instrumen elektronik dengan media netral, yaitu tanah. Jadi posisi grounding berada di tengah. Karena itu komponen dan konstruksinya harus sesuai dan berfungsi dengan baik. Coba Anda bayangkan jika groundingnya tidak bekerja, ini sama saja memutus rangkaian antara instrumen elektronik, dalam hal ini penangkal petir dengan tanah sebagai media pembuangan, akan fatal sekali akibatnya!

Untuk yang paling mudah dan umum yaitu membuat grounding penangkal petir dengan tipe pasak. Disebut seperti ini dikarenakan bentuknya seperti pasak yang ditanam di tanah dengan posisi tegak lurus. Tipe grounding pasak cocok untuk tanah bersedimen tanah liat dan endapan lumpur. Untuk rincian material grounding tipe pasak ini adalah sebagai berikut :

  1. Logam Pembumian, gunakan material yaitu : As Besi, As Tembaga (yang full tembaga, jangan yang banci) atau Pipa Galvanise yang ujung bawah dililit kabel BC sepanjang minimal 60 cm. Usahakan gunakan logam yang anti karat.
  2. Kabel Penghantar, gunakan material yaitu : Kabel BC Minimal Penampang minimal 50 mm (FULL, bukan banci). Di bawah itu tidak menjamin berfungsi dengan baik.
  3. Koneksi ke instrumen eletronik, gunakan material yaitu : skoen, mudah dilepas dan diganti jika rusak. Beli bus bar dari lempeng tembaga sebagai terminal bonding.
  4. Memperkecil resistan tanah, gunakan material yaitu bentonit, hanya sebagai opsi, lebih baik tidak karena resistan tanah yang asli jauh lebih baik.
  5. Pipa PVC, yang digunakan sebagai selubung (konduit) dari kabel grounding yang ditanam dalam dinding / tembok atau untuk jalur kabel BC dari penangkal petir (konduktor).

Selanjutnya cara membuat dan memasang grounding tipe pasak :

1. Penentuan Titik Grounding

Untuk penentuan titik grounding penangkal petir disarankan tidak terlalu jauh. Perhatikan juga luas lokasi grounding, berhubungan dengan pekerjaan pengeboran. Hal ini untuk lebih menghemat material kabel perhantar. Titik yang dekat lebih mudah dijangkau dan dikenali, jangan lupa beri tanda simbol grounding.

2. Pengeboran Titik Grounding

Lakukan pengeboran titik grounding penangkal petir, dengan teknik manual atau mesin disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Capai kedalaman pengeboran grounding yaitu 6 meter minimal. Jika pengeboran hingga menemukan air tanah maka sangat baik, nilai resistan grounding akan terjamin.

3. Masukkan Material Logam Pembumian

Setelah pengeboran dirasa cukup, maka logam pembumian dimasukkan ke dalam lobang bekas pengeboran tersebut. Jika anda memilih menggunakan logam As tembaga, maka kabel BC sudah tidak diperlukan sebagai lilitan.

Tetapi jika menggunakan pipa besi galvanise, maka harus dililit kabel BC sepanjang minimal 60 cm, lebih panjang lebih bagus. Gunakan pipa galvanise ukuran ¾”, dengan dililit kawat tembaga BC berdiamater 16 mm2. Panjang grounding rod ini biasanya antara 1.5 m s/d 3 m. Semakin dalam semakin bagus.

4. Buat Terminal Sambungan

Terminal sambungan disini ialah antara logam pembumian dan instalasi penangkal petir. Sebagai penghantar gunakan kabel BC 50mm luas penampang minimal. Beri material skoen sebagai media koneksi antara grounding penangkal petir dan air terminal di atas atau melewati bus bar terlebih dahulu sebagai terminal.

5. Lakukan Pengukuran

Ukur dahulu hasil media grounding yang telah dibuat. Tentukan dan pastikan nilainya memenuhi standar di bawah 5 ohm. Jika belum, maka buat media grounding lagi dengan jarak minimal 3 meter, kemudian di paralel.

6. Sambungkan Dengan Instalasi Penangkal Petir

Jangan lupa setelah semua pekerjaan selesai, maka sambungkan media grounding dengan kabel penghantar penangkal petir. Untuk lebih rapi, pada terminal sambungan bisa diberi Bak kontrol.

Media grounding bisa juga diaplikasikan untuk instalasi lain selain instalasi penangkal petir, seperti instalasi listrik, mesin, arrester mengamankan induksi petir dan lainnya. Pemilihan material di atas adalah spesifikasi standar minimum, dan pastinya harga lebih terjangkau. Dengan dapat membuat grounding sendiri diharapkan keselamatan manusia dan instrumen dapat di tingkatkan dan lebih baik.

 

Teknik penanaman Grounding Road

  1. Lakukan penggalian tanah ukuran 30 x 30 kedalaman 50 cm
  2. Pertama coba tancapkan grounding road tersebut apakah mudah atau susah ditancapkan.
  3. Jika agak susah, buatkan dulu lubang dimana grounding rod akan ditanamkan. Misal dengan alat untuk bor air.
  4. Tuangkan air kedalam lubang tersebut hingga penuh
  5. Tancapkan grounding rod kedalam lubang tersebut dan tekan secara pelan pelan hingga beberap centimeter
  6. Angkat sedikit grounding rod, dan biarkan air turun kebawah
  7. Tekan kembali grounding rod hingga beberapa centimeter dari kedalaman awal
  8. Tuangkan kembali air kedalam lubang , lalu ulangi menekan grounding rod. Sepanjang  Anda tidak menemukan tanah yang keras atau tanah berbatu , air akan membantu anda untuk menggeser lumpur atau pasir di dalam tancapan hingga grounding rod tertancap sampai habis.
  9. Lakukan hal tersebut secara berulang hingga grounding rod tertanam sampai habis
  10. Jika anda mengalami kesulitan saat penancapan grounding road, anda bisa menggunakan alat bantu berupa palu untuk memukul ujung atas grounding road hingga tertancap semuanya, atau bisa juga denggan menggunakan alat bantu stang pipa, lakukan penjepitan stang pipa ke grounding road kemudian anda berdiri di stang pipa sambil menekan grounding road kebawah.

Penanaman Kabel Grounding

penanaman grounding road
ww.free-ad.net

Sebelum dilakukan penanaman/ penimbunan kabel, lakukan pengukuran tahanan grounding terlebih dahulu. Bilamana nilai yang dihasilkan belum sesuai standard, maka akan lebih mudah untuk penambahan grounding road  tambahan. Jika  nilai tahanan sudah sesuai standard lakukan penanaman kabel dengan segera.

  1. Lakukan penggalian tanah dari titik dimana grounding menuju masing masing titik grounding yang saling terhubung. Dan  juga lakukan penggalian kearah terminal grounding
  2. Buat galian disepanjang  jalur  lintasan  dengan kedalaman antara 50 -60 cm
  3. Tarik kabel grounding melalui jalur kabel tersebut, kemudian tempatkan di bawah galian. Pastikan panjang kabel sudah cukup hingga proses pengikatan dengan grounding road tidak akan susah. Jangan biarkan kabel grounding berlebih.
  4. Setelah semua sambungan telah di koneksi dengan sistim cadwell, berikan pipa marking di tempat grounding rod tersebut. Gunakan pipa PVC 4 ‘’ dan ditutup dop pipa.
  5. Kemudian  lakukan penimbunan tanah didaerah galian sampai ketinggian 20 cm. Lalu padatkan. Kemudian beri tanda misalanya batu bata supaya dikemudian hari jika ada penggalian di sepanjang areal penanaman kabel, maka kabel akan aman.
  6. Setelah bata terpasang semua, kemudain timbun kembali hingga penuh. Lakukan penimbunan hingga betul betul padat.

 

Penting diperhatikan :

Dalam menentukan kualitas grounding/arde, yang menentukan adalah NILAI RESISTENSINYA, jadi bukan berapa panjang grounding rod yang tertanam ke bumi.

0

Perbedaan Switch Managed dan Unmanaged

Februari 28, 2017

Switch adalah perangkat yang berfungsi sebagai media penghubung dalam jaringan yang sama dan memperbesar skala jaringan (dengan mudah bisa digunakan untuk menambah PC dalam jaringan yang sama). Saat ini peran dan fungsi switch terus berkembang dengan diterapkannya beberapa fitur yang makin menjadikan switch begitu handal dalam mendistribusikan data antar komputer yang terhubung dengan Switch tersebut.

Tidak semua switch bisa menjalankan fitur-fitur canggih yang sangat mendukung kehandalan dalam meneruskan data dari satu komputer ke komputer lain. Secara umum semua jenis switch mempunyai 2 fungsi utama, yaitu fungsi Address Learning dan meneruskan / menyaring data frame.

Ada dua jenis switch, yaitu yang dilengkapi dengan fitur-fitur handal yang mendukung kinerja switch dan switch yang hanya menjalankan fungsi dasar saja. Inilah yang disebut dengan switch managed dan switch unmanaged.

Switch UnManage (Non Manageble Switch)

Unmanaged switch adalah switch yang tidak dapat di-manage. Maksudnya adalah switch tersebut pada saat kita membelinya, hanya bisa kita nyalakan dan tancap semua kabel UTP ke switch tersebut, dan sudah berfungsi dengan baik. Unmanaged switch biasanya dipilih oleh pengguna-pengguna yang memang tidak ingin ‘dipusingkan’ oleh konfigurasi peralatan jaringan, karena sekedar plug-and-play. Selain mudah dipasang, tentu saja karena tidak adanya modul management di dalam switch, harga dari switch tersebut akan lebih murah dibandingkan switch yang managed. Namun, apabila terjadi masalah dengan jaringan kita, kita tidak akan bisa melakukan troubleshooting dengan mudah, karena memang switch nya tidak bisa diapa-apakan. Beberapa trouble shooting jaringan yang sering terjadi dalam pemakaian switch unmanage diantaranya : IP Address ConflictEthernet tidak bisa connect, dan virus jaringan

 

Switch Manage (Manageble Switch)

Arti dari manageable di sini adalah bahwa switch dapat kita konfigurasi sesuai dengan kebutuhan network kita agar lebih efesien dan maksimal, sehingga bisa diatur untuk kebutuhan jaringan tertentu. Kelebihan switch manageable adalah:

  • Mendukung penyempitan broadcast jaringan dengan VLAN
  • Pengaturan access user dengan access list
  • Membuat keamanan network lebih terjamin
  • Bisa melakukan pengaturan port yang ada.
  • Mudah memonitoring trafic maintenance network karena dapat diakses tanpa harus berada di dekat switch.

Beberapa hal penting dalam menentukan Spesifikasi  dan Konfigurasi Manageble Switch

  1. Kapasitas jaringan saat ini dan masa yang akan datang ditetapkan berdasarkan kebutuhan bisnis saat ini dan masa yang akan datang.
  2. Jumlah dan tipe dari manageable Switch / Hub ditetapkan berdasarkan kebutuhan jaringan saat ini dan masa yang akan datang.
  3. Topologi jaringan diidentifikasi.
  4. Persyaratan keamanan dan manajemen jaringan ditetapkan.
  5. Manageable switch / hub dengan fitur yang cocok dipilih sesuai kebutuhan spesifikasi.
  6. Workstation, komputer, server, Router, dan perangkat jaringan yang lain ditetapkan sesuai dengan kebutuhan jaringan.
  7. Manageable Switch / hub dan perangkatnya dirangkai berdasarkan kebutuhan jaringan.
  8. Perangkat Manageable switch / hub dan Jaringan diuji berdasarkan persyaratan pabrik dan atau petunjuk pengujian.
  9. Jaringan dijamin tidak gagal atau terpecah dalam segmen-segmen yang terisolasi.
  10. Pengaturan jaringan dibuat berdasarkan dari hasil pengujian.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa antara kedua tipe switch tersebut (manageble Switch dan Non Manageble Switch) memiliki perbedaan, antara lain dalam hal :

1. Instan / Simple

Switch Unmanage simpel dan mudah digunakan (langsung pakai). Pada switch Manage belum tentu bisa langsung digunakan (perlu dilihat konfiguasi yang ada didalamnya).

2. Harga

Switch Unmanaged biasanya lebih murah dari switch manageable. Hal ini wajar karena kemampuan switch unmanaged hanya terbatas pada fungsi dasar yaitu fungsi Address Learning dan fungsi penerus/penyaring data. Switch manageable umumnya lebih mahal, namun kehandalannya sebanding dengan harga jenis switch ini.

3. Pengaturan switch
Switch unmanageable hanya bisa meneruskan data, switch jenis ini tidak bisa diatur-atur, semua pengaturan pada switch sifatnya tetap dan tidak bisa diubah-ubah. Plug and play istilahnya.

Switch manageable bisa diatur sedemikian rupa agar mampu meningkatkan performa switch dalam meneruskan data. Switch manageable juga dilengkapi dengan fitur-fitur yang digunakan untuk mengatur lalu lintas data.

4. Virtual LAN
Switch jenis manageable dilengkapi sebuah fitur yang sangat popular dan juga sangat bermanfaat, yaitu Virtual LAN atau VLAN. VLAN merupakan fitur dari switch yang membuat atau mengijinkan beberapa segment LAN untuk menggunakan sebuah hardware switch secara bersama-sama.

Prinsipnya adalah VLAN berfungsi untuk mengelompokan port-port dari sebuah hardware switch secara logika, dimana port-port tersebut dikelompokan berdasarkan segment LAN. Jadi biasanya satu switch hanya bisa dipakai oleh satu LAN, namun dengan VLAN sebuah switch bisa dipakai oleh lebih dari satu LAN dan lalu lintas datanya pun tidak saling bercampur meskipun menggunakan hardware yang sama. Hal ini tidak terdapat pada switch unmanage.

5. Redundancy
Dalam dunia networking, redundancy adalah kemampuan untuk menyediakan jalur cadangan selain jalur utama, dan ketika jalur utama terputus maka proses data transfer melewati jaringan backup.

Fungsi Redundancy pada switch manage bisa diatur secara otomatis. Ketika terjadi masalah pada link utama, maka link backup langsung mengambil alih fungsi link utama. Pada switch unmanage, redundancy tidak bisa diterapkan secara otomatis seperti pada Manage switch.

6. Prioritas lalu lintas data
Switch unmanaged tidak bisa mengatur prioritas lalu lintas data mana saja yang lebih dahulu atau diutamakan untuk dikirim. Semua jenis data prioritasnya sama, tidak ada yang lebih istimewa.

Pada switch jenis manage, prioritas terhadap jenis data mana yang dikirim terlebih dahulu bisa dilakukan. Misalnya data yang berisikan percakapan atau suara bisa lebih diprioritas dari pada data jenis lainnya.

7. IP Address Untuk Fungsi monitoring
Pada switch jenis unmanage, tidak ada fungsi monitoring terhadap kondisi switch. Switch unmanage dipasang dijaringan tanpa bisa dicek melalui network apakah switch tersebut On atau Off. Pengecekan hanya bisa dilakukan dengan memastikan bahwa data yang terkirim ke tujuan melalui switch tersebut telah sampai.

Switch jenis manage, fungsi monitoring bisa dilakukan dengan mengkonfigurasi IP address dan mengecek melalui IP address, bisa juga melalui protocol SNMP ataupun program monitoring jaringan lainnya.

8. Standar VLAN(IEEE 802.1Q, VLAN tagging)

Pada Swicth Manage Support ke berbagai perangkat, seperti Router. Sehingga Konfigurasi VLAN di Switch Manage bisa dibaca di perangkat lain yang support VLAN. Pada Switch unmanage hal ini tidak bisa dilakukan.

 

Lalu switch merek apa yang bagus ? Menurut saya yang paling bagus adalah merek CISCO!

0

Ingin mendapatkan email inspiratif dari Purba Kuncara langsung ke inbox Anda ?

Silahkan daftar di mailing list purbakuncara.com