Penyebab “Retak Rambut” Pada Dinding Rumah

July 6, 2015

Rumah baru tentu menghadirkan keceriaan bagi Anda. Namun bagaimana jika retak rambut pada dinding mulai bermunculan pada dindingnya? Pasti akan ada rasa kecewa. Untuk mencegahnya, mari kita ulas penyebab dan cara mengatasi retak rambut pada dinding rumah baru tersebut.

Retak pada dinding rumah pada umumnya ada 2 macam, yaitu retak rambut dan retak struktur.

1. Dinding Retak Rambut (non struktural)

• Retakan bercabang-cabang
• Ukuran retakan < 1mm
• Terjadi akibat:
– Pekerjaan acian yang tidak sempurna, misalnya aplikasi saat dinding dalam kondisi panas sehingga ikatan acian belum sempat menyatu dengan plesteran sudah kering terlebih dahulu
– Acian semen yang tipis dan belum kering kemudian dilapisi lagi dengan acian
– Cat yang digunakan tidak memiliki elastisitas yang baik.

Mengatasi dinding rumah retak diatas dengan lakukan penyiraman air sampai jenuh terlebih dahulu pada bidang-bidang yang akan di aci agar kondisi dinding lembab.

retakrambut

retak rambut

2. Dinding Retak Struktur

• Retakan lebar
• Ukuran retakan > 1mm
• Terjadi akibat pergerakan tanah dibawah pondasi, misalnya : pondasi bangunan tidak stabil akibat satu bagian menurun. Ditandai dengan retak secara diagonal (miring dari atas ke bawah)
• Bila retakan > 2 mm, harus dilakukan perbaikan dengan merenovasi konstruksi fisik bangunan rumah

 

Karena yang paling sering terjadi adalah retak rambut, maka kita akan bahas lebih detail tentang retak rambut di sini.

Retak rambut adalah retak yang kecil sekitar 1 mm. Meskipun kecil, biasanya retak rambut pada bangunan ini memanjang dan berpotensi menjadi retakan yang lebih besar. Sebelumnya perlu dipastikan dahulu, retak tersebut merupakan retak sturktural atau non-struktural dengan cara membobok bagian yang retak. Jika hanya sampai plester, dipastikan itu hanya retak non-struktural atau tidak berpengaruh pada struktur sehingga penanganannya tidak memerlukan bantuan ahli, Anda pun mampu memperbaikinya.

Banyak hal yang dapat menyebabkan retak rambut non-struktural, yaitu pada saat proses pengerjaan plesteran komposisi (campuran) adukan semen, pasir dan air tidak dalam takaran perbandingan yang pas; pasir dengan kadar organik yang tinggi; pasangan bata belum kering atau terlalu kering; atau aplikasi pada cuaca panas terik.

Cara untuk memperbaiki retak rambut pada dinding tembok rumah baru adalah dengan menambal bagian yang retak dengan menggunakan mortar acian, yaitu campuran antara semen dan air.

Sebelumnya, buka lapisan dalam yang retak, dengan lebar permukaan atau jarak dari kiri ke kanan sekitar 5 cm. Lalu siram permukaan dinding dan diamkan selama beberapa menit, lalu mulailah menambal bagian yang retak dengan mortar acian, dengan ketebalan sesuai dinding sebelah kiri dan kanan yang tidak retak. Setelahnya, tunggu hingga 14 hari (2 minggu) agar mongering sempurna, lalu lakukan pengecatan dengan warna cat yang sama dengan cat sebelumnya. Jika retak cukup banyak, sebaiknya buka lapisan plesteran dengan area lebih luas, lakukan dengan cara yang sama di atas satu area dinding sehingga hasil cat-nya lebih homogen.

0

Tips memilih rumah di perumahan

June 28, 2015

Bisnis property saat ini sepertinya sedang menurun. Banyak marketing perumahan yang mengeluh susahnya menjual “dagangannya”, terutama untuk rumah dengan harga 400 juta ke atas. Hal ini didukung dengan banyaknya orang pribadi yang menjual rumahnya karena kebutuhan yang mendesak dan harga-harga yang terus naik. Kondisi saat ini memang tengah krisis dan kemungkinan masih akan terus terjadi hingga tahun 2018 – 2020.

Namun apapun itu, rumah merupakan kebutuhan yang cukup penting. Saya merasakan dulu sewaktu sudah menikah dan tinggal di perumahan “mertua indah”, kemandirian itu tidak muncul, masih tetap seperti anak… Hehehe.. Ya, ini memang tergantung individu masing-masing. Berhubung kami ingin belajar hidup mandiri, akhirnya carilah kontrakan. Didapatlah rumah kontrakan tipe 45 di Perum. Royal Garden, Jong Biru, Kediri. Waktu itu tahun 2012 harga sewanya sebesar 12 juta/tahun. Wow! Rumah sebesar itu sudah cukup untuk ditinggali berdua karena terdiri dari 2 kamar, 1 kamar mandi dan dapur. Ruang kerja jadi satu dengan ruang tamu :)

Tapi bagaimanapun juga, tinggal di kontrakan itu tidak serasa seperti tinggal di rumah sendiri. Karena kita mau menghias juga kadang ga diperbolehin sama pemilik rumah. Bahkan terkadang rumahnya bocorpun disuruh benerin sendiri.

Setelah mencari-cari dan sambil mengumpulkan uang, akhirnya ketemulah perumahan yang menurut saya cukup bagus karena masih di tengah-tengah kota kediri. Waktu itu uang saya ga cukup dan saya sangat anti sekali dengan KREDIT BANK! Tapi dengan terpaksa, saya akhirnya kredit juga… LOL

Dari pengalaman itu, berikut ini saya tuliskan tips memilih rumah di perumahan BERDASAR PENGALAMAN SAYA :

1. Lokasi

Lokasi merupakan faktor yang sangat penting. Seorang teman saya punya 2 rumah, satu rumah dekat dengan perkantoran dan universitas, dan 1 rumah ada di pelosok kota. Rumah yang pertama relatif lebih mudah deal dengan calon pengontrak. Sedang rumah kedua sangat susah, padahal harga sudah diturunkan. Kondisi rumah sih dua-duanya biasa-biasa aja memang.

Untuk itu, perhatikan benar lokasinya. Memang yang dekat dengan perkantoran atau universitas agak mahal, tapi nilai investasinya tentu akan lebih bagus. Mau dikontrakkan, dikostkan atau dijual lagi ? Itu terserah Anda.

Dekat dengan fasilitas umum (fasum), seperti Mall, Rumah Sakit, Bank juga menjadi nilai PLUS.

 

2. Lingkungan

Anda harus paham betul lingkungan seperti apa yang Anda inginkan. Apakah lingkungan para pebisnis ? Kalau ini mau Anda, carilah perumahan dengan harga di atas 700 juta. Umumnya perumahan dengan harga segini jumlah rumahnya tidak terlalu banyak, maksimal 30 rumah dan one gate system sehingga Anda tidak perlu memasang pagar di depan rumah karena sudah ada penjagaan keamanan 24 jam.

Memang kalau perumahan baru dibangun, kadang ga tahu tetangga kanan kirinya siapa. Ya beruntung kalau dapat tetangga yang baik, yang ga suka ngrumpi (rasan-rasan/ gosip) ataupun sering bikin keramaian malam-malam (karaokean dll). Tapi kalau perumahan sebagian sudah ada yang menempati, coba lihat sekilas karakter orangnya seperti apa. 

Lingkungan di luar perumahan juga perlu diperhatikan. Apakah ada preman ? atau di situ lingkungannya para maling dan pengangguran ? Jalan masuk yang dilewati apakah sempit atau lebar ? Sering banjir kalau hujan ?

Satu hal lagi, jangan terkecoh dengan harga murah tapi rumahnya bagus-bagus. Beberapa yang pernah saya lihat, ternyata tanahnya itu bekas pembunuhan massal. Hiii serem 😀

 

3. Developer

Pengalaman bertahun-tahun bukanlah jaminan bahwa sebuah perusahaan developer akan bagus dalam memberikan service ke customer. Anda bisa lihat perumahan-perumahan yang pernah dibuatnya. Apakah carut marut ? jalanannya jelek ? Yes, biasanya itu juga yang akan terjadi.

Bahkan ada pemilik developer yang selalu berada di balik layar. Yang turun di lapangan adalah anak buahnya. Tidak mau turun ke customer untuk mendengarkan apa yang menjadi keinginan dan kekecewaan mereka. Mungkin karena mereka tidak hanya mengerjakan 1 perumahan saja dalam waktu bersamaan.

 

4. Ukuran yang cukup

Menurut saya, idealnya rumah untuk suami istri dan 1-2 orang anak adalah minimal Luas Tanah 9 x 19 m2 dan Luas Bangunan 9x 14m2 (tipe 125). Dengan menyiasakan ruang kosong tentunya untuk gudang. Lantai 2 bisa dibuat untuk taman, gazebo dll (terbuka). Lebih kecil dari ukuran ini adalah tipe 65 (Luas tanah 95m2), cukup untuk pasangan yang belum punya anak atau hanya sekedar dikontrakkan atau buat kantor dengan 10 orang pekerja.

Mungkin Anda bisa beli dulu sesuai budget. Baru setelah ada uang cukup, Anda bisa membeli yang lebih besar.

 

5. Listrik, Air dan jaringan internet

Sewaktu masih kontrak, jaringan telfon belum ada. Duh, mana internet byar pet byar pet.. Hehehe… Tapi bersyukur sekarang sudah menggunakan fiber optic dari indihome di rumah sendiri.

Jika Anda membutuhkan koneksi internet yang stabil, maka perhatikan hal ini. Saya pernah berencana membeli rumah tipe 65 di pekanbaru, tapi ternyata lokasi jauh sekali dari kantor telkom, sekitar 6km, mana belum ada jaringan fiber optic.

Kualitas air tanah juga menentukan. Jika kualitasnya jelek, maka PDAM harus ada.

 

6. Keamanan

Perumahan yang one gate system, tidak dilewati oleh warga kampung lain, dengan keamanan 24 jam sangat dibutuhkan jika memang kita beli rumah untuk ditempati.

 

Dari tips-tips di atas, tentu masih banyak lagi yang bisa jadi pegangan. Nanti akan saya update.

Dan jika Anda sudah punya rumah tempat tinggal dan punya uang lebih untuk investasi, jangan buru-buru beli di perumahan. Lebih baik cari tanah terus bangun sendiri. Hal ini bisa lebih murah sekali dibanding beli di perumahan. Apalagi beli tanah di desa (sawah), bisa dapat lebih luas sekali dibanding di kota.

0

Kisah si jenggot dan si kumis

June 24, 2015

Alkisah ada dua orang penebang kayu bernama si jenggot dan si kumis. Mereka menghabiskan waktu yang sama di hutan. Sama-sama 8 jam sehari. Namun, dari sisi hasil, kayu si kumis selalu lebih sedikit daripada kayu si jenggot. Padahal, si kumis bekerja full 8 jam non stop menebang pohon sana-sini. Sedangkan si jenggot, tampak santai di 2 jam pertama.

 

Kenapa si jenggot yang menunda-nunda untuk menebang pohon selama 2 jam bisa dapat kayu lebih banyak ?

Ternyata si jenggot menghabiskan dua jam pertama untuk mengasah kapaknya dan sisanya baru mulai menebang pohon. Sedangkan si kumis kerja keras menebang pohon dg kapak tumpul.

 

Apa pelajaran yang bisa dipetik dari cerita di atas ?

Kapak yang diasah itu ibaratnya adalah OTAK dan KETRAMPILAN yang diasah. Diasah dengan apa ? Diasah dengan ILMU dan PENGALAMAN.

Seseorang membalas email saya : “Saya ga mau ikutan workshopnya dulu mas, mau nyiapin produknya dulu”.

Seringkali seseorang tidak bisa dengan cepat sukses karena ada masalah di MIND SET (Pola Pikir) dan MENTAL.

Mental ini merupakan penyakit yang tidak terlihat jelas tapi dampaknya sebenarnya sangat luar biasa. Karena mental, seseorang takut untuk mencoba hal-hal baru. Karena mental, seseorang tidak mau membuat usahanya berkembang semakin besar. Karena mental pula, seseorang tidak mau belajar ilmu yang lebih tinggi karena merasa masih pemula atau merasa belum siap.

Saya masih ingat tahun 2007 saya ga tahu mau bisnis apa, tapi ketika waktu itu ditawari ada sebuah seminar 2 hari fullday, saya langsung daftar. Kenapa ? karena saya ingin merubah hidup saya. Waktu itu, saya memang menghadapi masalah dengan diri saya, yaitu RASA MINDER yang BERLEBIHAN. Saya kurang bisa percaya diri, apalagi berjualan produk.. hehehe… Sebenarnya inti dari seminar tersebut hanya mengajari untuk berani berbicara di depan umum, untuk berani menyampaikan apa yang menjadi cita-cita. Dan bersyukur, apa yang saya ungkapkan saat itu, sudah mulai saya petik hasilnya dari tahun 2012. Semua ini berkat Tuhan tentunya. Nama seminar itu adalah VERTICAL LEAP.

Sebenarnya itu merupakan bagian dari investasi leher ke atas… Maksudnya adalah investasi OTAK atau pengetahuan untuk memperbaharui mindset dan menghancurkan mental blocking.

Sukses adalah bertemunya PELUANG dengan KESIAPAN. Siapkan diri Anda dengan pengetahuan, ilmu, wawasan dan pengalaman, sehingga saat PELUANG itu tiba-tiba datang, Anda siap meraihnya, bahkan Anda bisa menciptakan PELUANG. Jangan sampai kompetitor Anda yang meraihnya duluan dan Anda hanya bisa gigit jari :)

Seorang entrepreneur lahir tidak terlepas dari keberanian bertindak. Maka percuma saja belajar, baca buku, ikut seminar, ikut workshop, ikut mentoring JIKA TIDAK MAU PRAKTEK!

0

Etika Hidup Bertetangga

June 16, 2015

Perumahan-baru-depok

Ada seorang teman bercerita bahwa ia telah salah dalam membeli perumahan. Perumahan yang ia beli dengan mengambil semua gaji bulanan itu ternyata lingkungannya kurang bersahabat. Ia merasa seperti dikucilkan karena perbedaan keyakinan (ia minoritas). Lingkungan tersebut memang kebanyakan dihuni oleh orang-orang “garis keras”.

Solusinya mungkin adalah : ia yang  harus mencoba untuk bertahan dan terus berusaha berbaik-baik sama tetangga… Atau ia yang harus cabut dari perumahan tersebut dan mencari perumahan lain.

Tinggal di perumahan memang berbeda sekali dengan tinggal di desa. Desa saya sendiri, di Blitar Jatim, ada 3 tempat ibadah…. Masyarakatnya heterogen dan guyub rukun. Tidak terpancing dengan isu-isu yang memecah belah. Kalau hari besar keagamaan, ya saling berkunjung dan bersilaturahmi tanpa memikirkan perbedaan.

Tinggal di perumahan itu berarti memang harus bersiap untuk bertenggang rasa dengan tetangga. Umumnya perumahan, terutama perumahan menengah ke bawah, temboknya kan mepet (berdampingan langsung), sehingga kalau tetangga sebelah memutar musik keras-keras atau sering bikin acara ramai-ramai, terkadang masih kedengaran oleh tetangga-tetangga yang lain. Di sini sebenarnya tidak ada masalah jika masing-masing tetangga sudah saling kenal dekat, sering ngobrol dlsb.

Tapi berbeda jika perumahan itu adalah kelas menengah ke atas. Biasanya frekuensi “jagongan” atau “ngrumpi” antar warga sangat kurang sekali. Hal ini yang seringkali menimbulkan gesekan akibat tidak kenal dengan baik. Misalnya, ada warga X sering kedatangan banyak tamu, lalu tamu-tamu tersebut memarkir mobilnya di warga Y. Warga Y karena merasa tidak terima depan rumahnya sering dibuat parkir tanpa ijin, lalu melabrak… Hahaha  (saya punya pengalaman bertamu dan memarkir mobil di warga Y ini dan saya yang dilabrak).

Semoga hal itu tidak sampai kejadian ya… Harus bisa menahan emosi. Bagaimanapun juga, kalau itu adalah rumah tempat tinggal, maka itu artinya bukan bertetangga untuk sehari dua hari melainkan seterusnya. Jadi jangan sampai hubungan itu renggang, atau malah jadi “satru” atau timbul kebencian sehingga tidak mau disapa atau menyapa.

Saya pribadi juga tinggal di perumahan. Perumahan pertama yang saya tinggali orangnya senang ngrumpi. Hehehe… Senang rasan-rasan atau ngegosip. Perumahan kedua yang saya tinggali orangnya cuek-cuek. 2 orang tetangga sangat baik, disapa juga sangat ramah. Tapi ada tetangga juga yang wajahnya sangar, tidak mau disapa dan menyapa.

Nah, perumahan terakhir yang saya tinggal sekarang juga ternyata ada plus minusnya. Ada tetangga yang setiap 3 bulanan sekali pasang terop lalu karaokean dengan menggunakan elektone  dan soundsystem dengan mengundang teman-temannya. Hal itu tidak masalah sih karena dilakukan siang hari hingga malam hari jam 7, sehingga tidak mengganggu jam istirahat.

Tapi ada juga tetangga yang sering mengadakan acara ibadah secara berjamaah (sekitar 10 – 30 orang) setiap malam hari (mulai jam 11 malam hingga jam 2 pagi-an), terkadang menggunakan soundsystem. Suaranya masih terdengar di rumah saya. Kalau tidak pakai speaker, maka saya cukup menutup semua pintu lalu tidur. Ya masih terdengar rengeng-rengeng (sayup-sayup) sih, tapi tidak masalah. Yang jadi masalah adalah ketika menggunakan soundsystem/speaker, dari jam 7 malam hingga jam 11 malam, semakin malam semakin keras suaranya, sehingga membuat anak saya sering terbangun tidurnya. Kalau sudah begini, saya mending ngungsi sebentar naik mobil ke luar… Baru pulang ke rumah jam 12 malam. Lebih baik mengalah kalau merasa terganggu, kecuali ada warga lain yang juga merasa terganggu, mungkin bisa lapor ke ketua warga perumahan atau Pak RT.

Hidup di perumahan memang harus bisa menjaga toleransi, kebersamaan, kehangatan dan keramahtamahan agar bisa tetap harmonis. Kalau perlu, jika ada tetangga yang bikin acara, ya dibantu. Entah itu jadi tukang parkirnya, menyediakan tempat parkir ataupun membantu menyiapkan makanan. Hal itu agar ketika kita punya acara, merekapun juga mau ikut mendukung. Bukankan harmonis itu lebih indah?

0

Apa yang Anda kejar ?

June 14, 2015

person-110305_1280

Rata-rata yang namanya pengusaha itu yang dikejar adalah DUIT… Makanya jangan heran kalau mereka melihat duit langsung matanya jadi ijo .. hehehe.. Hal itu wajar sekali kok.

Tapi sebenarnya ada hal lain yang orang kejar, yaitu KEPUASAN ROHANI dan JASMANI.

Duit boleh banyak, tapi kalau hati ga tenang ??

Dan memang kemampuan otak, waktu, tenaga dan modal masing-masing orang tidaklah sama. Maka dari itu, tidak bisa omset menjadi tolak ukur karena memang PASSION dan kemampuan setiap orang pada dasarnya berbeda-beda. Tapi seiring bertambahnya kapasitas, maka pendapatanpun juga akan semakin besar dan semakin mudah mencapainya.

Masih ingat perumpamaan tentang gajah dan kulkas  kan ?

Seekor gajah besar mau dipaksa masuk ke sebuah kulkas yang kecil, jelas tidak akan muat. Solusinya adalah : kulkasnya yang harus diperbesar atau gajahnya yang kecil aja 😀

Gajah itu berbicara tentang rejeki atau PROFIT. Sedangkan kulkas itu berbicara soal KAPASITAS diri.

Memang besar kecilnya bisnis tergantung dari kemampuan ownernya. Jika ingin bisnis Anda jadi besar, maka Anda harus terus menerus mau untuk meningkatkan kemampuan diri Anda. Istilahnya adalah SCALE UP atau Terus UPGRADE DIRI!

Meningkatkan kemampuan itu bisa dengan mengikuti mentoring, coaching, seminar, workshop, baca buku, brain storming dengan komunitas, sharing dengan teman dll. Jangan cuma melulu di depan leptop dan tidak tahu hiruk pikuk di luaran :)

Nah, kita sering punya banyak ide, tapi tidak punya TENAGA untuk mengeksekusinya….

Kenapa ? Karena kita tidak punya GOAL yang kuat…

Gimana cara mengatasinya ?

Ini menurut coach Dewa Eka Prayoga dalam seminarnya di Yogyakarta bersama Jaya Setiabudi yang saya tulis ulang :


1. Buat goal yang menantang, spektakuler dan dramatis

Maksudnya adalah bukan goal yang mudah dicapai, tapi buatlah goal yang terasa mustahil untuk dicapai. Perihal bagaimana cara mencapainya, itu nomor sekian. Nanti dipikirkan sambil jalan.


2. Alasan yang kuat

Punya goal saja tidak cukup! Anda harus punya alasan yang kuat kenapa harus benar-benar berjuang mencapai goal tersebut. Disini bukan Anda lalu membayangkan Uang 1 M di rekening, melainkan membayangkan orang-orang yang Anda sayangi, apakah itu pasangan, orang tua, anak dll. Untuk siapa Anda sukses, demi siapa Anda berjuang sukses, dan sejenisnya, harus benar-benar tergambar jelas dalam benak dan pikiran Anda.


3. Strategi yang fleksibel

Ini baru bicara masalah strategi dan teknis. Dalam membahas tentang Laku Keras Gara-Gara Jualan Online, ada 3 poin penting, yaitu Traffic, Conversion, dan Relationship. Jika omzet penjualan online Anda ingin meningkat drastis, maka perhatikan tiga hal tersebut. Trafficnya diperbanyak dengan memanfaatkan 3 sumber trafik (organic, paid, direct), Coversionnya dipertinggi dengan menguasai ilmu copywriting dan teknik closing, dan Relationshipnya diperbagus dengan membangun database (list building email, no HP, pin BB, grup member fesbuk). Kalau tiga hal tersebut sudah Anda kuasai, maka jualan Anda bakalan laku keras nggak karuan, alias Laris. Buktikan!

(Seorang teman berkata kepada saya : “Bisnis itu cari yang gampang-gampang aja mas tapi hasilnya gede)

Hanya saja… Tiga hal tersebut saja ternyata tidak cukup, ada dua hal lagi yang tak kalah penting dapat menentukan kesuksesan Anda, yaitu ACTION dan KOMITMEN. Sehebat apapun strategi dan tekniknya, kalau nggak di-EKSYEN-kan, percuma!!!… Kalau udah eksyen, tapi nggak komitmen, percuma juga… Semangatnya cuma di awal-awal doang!

Hal ini cocok sekali dengan apa kata Thomas Alfa Edison, yaitu yang disebut jenius itu adalah : 1% inspirasi + 99% kerja keras. Itu artinya kita harus bekerja keras agar ide-ide kita bisa terlaksana.

Oya, ngomong-ngomong soal ide nih, saya mau cerita pengalaman saya… Boleh kan ? hehehe

Tahun 2010 saat saya masih awal-awal merintis bisnis hosting dan streaming, saya bercerita dengan seorang teman… Lalu dia bilang : “Emangnya jualan streaming gitu laku apa??? Coba kamu hitung dulu berapa banyak radio di jawa timur yang masih eksis ??? Susah lo ngasi supportnya, ribetttttt”

Saya sempat down saat itu karena melihat jumlah klien juga masih sedikit dan susyah sekali mendapatkannya… hmmm… Sempat putus asa dan menyerah, sementara hasilnya juga masih dikittt… Tapi karena sudah passion saya di dunia broadcast, maka business must GO ON!!!..

Seandainya saja saya mau mendengarkan apa kata teman itu dan larut dalam kebimbangan, mungkin Anda tidak akan pernah mendengar yang namanya klikhost.com dan membaca email-email saya ini.. hehehe….

Demikian pula saat saya punya ide membuat layanan autoresponder, yaitu viosender.com. Ada seorang teman yang saya ajak ngobrol berkata : “Eh, apa ga susah tuh entar maintenancenya ?? entar kalau emailnya masuk spambox terus gimana?” Dan memang benar, awal-awal saya merintis viosender, beberapa kali mengalami hal yang dikuatirkan dari awal tersebut. Tapi bersyukur, semua itu bisa dilewati… Dan semakin banyak ilmu yang didapat karena mau mengalami masalah demi masalah tersebut.

Penghasilan dari viosender sendiri memang tidak terlalu banyak. Tapi saya seneng ketika mendengar kisah sukses pengguna viosender yang cerita ke saya : “Mas, saya sebulan bisa dapat 3-8 juta loh hanya dari email marketing”. Ada juga yang cerita : “Mas, saya 3 bulan sekali mengadakan workshop, dan data pesertanya cuma dari optin yang saya pasang di web…. Dan luar biasa, sekali bikin workshop, saya dapat 100 peserta dengan profit bersih sekitar 200 juta”…. Hal ini merupakan kepuasan tersendiri, melebihi rejeki berupa uang yang saya dapatkan.

Cerita lainnya yaitu saat saya awal-awal membuat klikwebinar… Sempat ada orang yang menyeletuk : “Eh, kamu mau bikin webinar tandingan ya??? apa ga sungkan tuh sama dia?”… Sontak saya jawab : “Ini bukan webinar tandingan.. tp sebagai pengisi waktu luang saya saja.. Daripada punya waktu dan ilmu cuma dipendem saja, mending saya gunakan untuk hal yang positif dan membangun”.

Andaikan saya frustasi gara-gara perkataan tersebut, mungkin tidak akan ada 25 lebih video replay klikwebinar yang bisa Anda nikmati :)


Sudah siap untuk memperjuangkan mimpi Anda ??

Sekarang gantian saya mau mendengarkan kisah Anda… Komen di post ini.. Boleh curhat atau add pin BBM saya : 74C7D431

0

Ingin mendapatkan email inspiratif dari Purba Kuncara langsung ke inbox Anda ?

Silahkan daftar di mailing list purbakuncara.com

You might also likeclose