Kumpulkan hartamu di kekekalan

April 19, 2015

Umumnya manusia secara alamiah akan berpikir seperti ini ketika melakukan sesuatu : “Apa untungnya bagiku jika melakukan hal itu?”… Misal ketika bersedekah atau berbagi, memberikan zakat ataupun perpuluhan, mengajari orang secara gratis, akan berpikir 1000 x : “Apa untungnya bagiku ?”, “uangku jadi berkurang donk?”, “Wah enak donk mereka ga kerja tapi dapat duit?”, “wah enak donk mereka dapat gratisan?”

Yes, hal itu wajar kok. Tapi yang perlu dipahami adalah ketika kita memberikan sesuatu dari milik kita kepada sesama ciptaan Tuhan, sesungguhnya kita sedang menukar harta kita di bumi ini dengan harta di kekekalan. Jadi sebenarnya harta kita tidak berkurang. Justru sebenarnya kita sedang berbuat baik untuk masa depan diri kita sendiri…

Harta di bumi bisa dicuri orang, tapi harta di sorga tidak bisa dicuri.

Di mana harta kita berada, di situ juga hati kita berada.

#mindset

Telah dibaca :38
0

Jangan mengorbankan anak demi karir maupun bisnis

February 25, 2015

Saya mendapat sebuah cerita yang menyedihkan… Siapkan secarik tisu sebelum membaca kisah ini, yang saya dengar kisah ini merupakan kisah nyata di Kota Malang, Jawa Timur….

Berikut ceritanya….

Dikisahkan ada seorang anak yang hidup dalam keluarga berkecukupan. Ayah dan Ibunya pekerja keras yang masing-masing mempunyai karir bagus, begitu sibuknya kedua orangtua sampai-sampai untuk mengasuh anak semata wayang tidak punya banyak waktu. Akibatnya, sang anak lebih pantas disebut “anak pembantu”, karena hidup kesehariannya lebih banyak didampingi pembantu daripada orangtuanya, walaupun semua kebutuhan anak yang masih 5 tahun sangat tercukupi, bahkan boleh dibilang berlebih.

Suatu hari, seperti biasanya, anak itu main gambar-gambar di tanah dengan pecahan batu kecil di halaman rumahnya yang asri, ditemani sang pembantu. Ayah dan Ibunya sedang dinas di Jakarta. Saat menggambar itu, kebetulan sang anak menemukan satu paku lancip. Anak yang masih balita itu betapa senang menemukan barang yang mungkin jarang dipegangnya. Sambil berloncatan dia meneruskan kesenangannya corat-coret dan menggambar sesukanya. Tetapi dimana dilakukannya? Rupanya dia mencoba menggambar di tempat yang dianggap lebih baik, di body mobil ayahnya di garasi rumah. Mobil itu termasuk gres, baru 2 minggu dikirim ke rumah oleh dealer. Pembantunya saat itu sedang ke belakang mengambilkan air minum.

Sambil senyum-senyum kegirangan sang anak menuntaskan gambarnya. Eit, sang pembantu datang. Lalu dengan bergegas dia menarik sang anak untuk tidak mencoret-coret mobil baru dan mewah itu. Pertamanya sang anak menangis, tetapi lama-lama dapat ditenangkan oleh pembantu yang kemudian mengajaknya tidur siang.

Malam harinya kedua orang tuanya datang. Kelihatan capek sekali. Tapi sempat bertanya keadaan rumah dan anaknya ke pembantu. Sang pembantu entah lupa entah takut, ya jawabnya baik-baik saja, tidak ada laporan negatif. Parahnya dua manusia yang super sibuk itu nengok anaknya yang sudah tertidur pulas saja tidak sempat dilakukan, langsung masuk ke kamar, dan tertidur nyenyak.

Pagi hari saat udara cerah, sang anak bangun tidur. Mendengar suara ayah ibunya sudah datang, dia senang bukan main. Dengan bergegas didatangi ayahnya, sambil melaporkan kegiatannya. Sang ayah menyambut anak dengan biasa-biasa saja. Lalu sang anak merengek mengajak ayahnya untuk melihat hasil gambarnya. “Ayo pa, sini, aku udah gambar bagus. Ayo lihat”, katanya. Lalu ayahnya ngikuti anaknya menuju garasi mobil. Dengan sangat bangganya sang anak ngoceh pada ayahnya. “Pa bagus khan gambaranku? bagus khan pa?”, celoteh si kecil itu sambil nunjuk gambar di mobil yang dibikinnya. Apa reaksi sang ayah? Bukannya memuji, menyayang apalagi merespon positif. Tetapi yang terjadi sebaliknya, sang ayah marah besar melihat mobil mewah dan masih baru penuh coretan anaknya. Emosi tidak terkontrol, dengan serta merta mengambil sapu kayu yang ada di sebelahnya. Sambil mengumpat, dipukulkan kayu itu ke pantat anaknya. Sekali dua kali tidak puas juga, dipukulkan lagi, dan secara refleks kedua tangan anaknya bergerak terkena pukulan kayu yang keras itu. “Aduh pa, ampun pa. Sakit”, keluhnya. Namun sang ayah masih menambah beberapa pukulan sambil mengumpat. “Dasar anak nakal. Bodoh! Nggak tahu mahalnya mobil ini. Jadi apa kamu nanti? Anak bandel !!!”. Setelah anaknya kelihatan benar-benar sakit sang ayah baru berhenti menganiaya. Setelah itu pembantunya dipanggil untuk ngurusin sang anak, diobati ala kadarnya. Ibunya kemana? Rupanya setali tiga uang dengan sang ayah, habis bangun tidur, tahu kejadian itu, sebentar nengok sang anak, merintah ini itu ke pembantu, lalu siap-siap ke kantor, ada rapat direksilah.

Sudah tiga hari anak itu kesakitan, badannya panas, tangannya lebam-lebam. Obat yang diberikan cuma penurun panas dan obat merah oles. Sang pembantu sebenarnya mau berinisiatif membawa ke dokter, tapi takut majikannya marah. Sementara perhatian majikan ke anaknya hanya sekilas-sekilas saja. Setelah seminggu tidak ada perubahan kondisi badan, sang pembantu akhirnya dengan “keberaniannya” memaksa sang majikan untuk membawa sang anak ke dokter. Apa yang terjadi?

Hasil diagnosa dan pengobatan oleh dokter sang anak dapat disembuhkan panasnya dengan minum beberapa jenis obat. Tetapi untuk tangan sang anak sulit diselamatkan karena terjadi pembengkakan, ada infeksi dari luka yang bernanah, satu-satunya jalan penyelamatan adalah melakukan amputasi terhadap kedua tangan sang anak. Ya, diamputasi!

Betapa terkejutnya kedua orangtua itu. Tidak ada pilihan lain, akhirnya mereka menyetujui untuk operasi amputasi. Beberapa jam setelah pelaksanaan operasi, obat pembius yang dimasukkan ke tubuh sang anak mulai habis pengaruhnya, sang anak perlahan sadar dan terbangun. “Papa, mama, aku dimana ini? Mengapa aku disini papa?”, erangnya secara perlahan. Lalu dia lihat sekelilingnya, kemudian lihat tubuhnya dan tangannya yang tinggal lengan dengan dibungkus gips/perban. Seketika dia menjerit. “Papa, mama, mana tanganku? Mana tanganku? Aku mau menggambar. Papa, kembalikan tanganku….Aku mau salim sama papa, sama mama, minta maaf kalau kemarin nggak boleh nggambar di mobil itu karena aku tidak tahu. Tapi mana tanganku pa?? Kembalikan tanganku Pa…..Aku mau menggambar lagi…”

 

Pelajaran apa yang dapat kita petik dari kisah ini?

Bisakah dua tangan anak kita samakan nilainya dengan mobil semewah apapun?

Para orangtua, sebenarnya apa yang Anda cari, materikah? Untuk siapakah? Anak jangan dikorbankan demi bisnis maupun karir!

Biarkan anak-anak yang masih kecil mencorat-coret dinding atau apapun…. Dinding yang kotor masih bisa dibersihkan atau dicat, tapi kegiatan anak yang suka mencorat-coret jika dicegah maka bisa MEMATAHKAN kreativitas dan keberaniannya. Anda bisa mengarahkan untuk menggambar di media yang benar.

Telah dibaca :692
0

Vaksinasi masih perlukah ? (Bag-2)

December 27, 2014

Imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang. Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten. Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya akan memberikan kekebalan atau resistensi pada penyakit itu saja, sehingga untuk terhindar dari penyakit lain diperlukan imunisasi lainnya.

Imunisasi biasanya lebih fokus diberikan kepada anak-anak karena sistem kekebalan tubuh mereka masih belum sebaik orang dewasa, sehingga rentan terhadap serangan penyakit berbahaya. Imunisasi tidak cukup hanya dilakukan satu kali, tetapi harus dilakukan secara bertahap dan lengkap terhadap berbagai penyakit yang sangat membahayakan kesehatan dan hidup anak.

Tujuan dari diberikannya suatu imunitas dari imunisasi adalah untuk mengurangi angka penderita suatu penyakit yang sangat membahayakan kesehatan bahkan bisa menyebabkan kematian pada penderitanya. Beberapa penyakit yang dapat dihindari dengan imunisasi yaitu seperti hepatitis B, campak, polio, difteri, tetanus, batuk rejan, gondongan, cacar air, tbc, dan lain sebagainya.

Jenis Imunisasi ada 2, yaitu pasif dan aktif. Imunisasi pasif dilakukan dengan memasukkan antibodi yg berasal dari luar tubuh, misal dari ibu ke janin melalui plasenta atau dari luar.

Contoh imunisasi pasif lainnya adalah ASI yang mengandung banyak antibodi. Atau suntikan imunoglobulin anti hep B. Sifat imunisasi pasif ini adalah TEMPORER atau SEMENTARA karena misalnya ASI, tidak mengandung antigen yang bisa merangsang pembentukan antibodi dalam tubuh bayi.

Sedang imunisasi aktif kita kenal dengan vaksinasi. Vaksinasi adalah persiapan biologis untuk meningkatkan kekebalan tubuh (manusia/hewan) terhadap suatu penyakit. Biasanya dilakukan dengan cara menginduksi (menyuntikkan) kuman, virus atau mikroorganisme penyebab penyakit yang sudah dilemahkan atau mati. Agen atau mikroorganisme (virus atau bakteri) yang dimasukkan dalam tubuh melalui vaksinasi akan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk mengenali benda asing yang masuk, menghancurkan dan “mengingatnya”.

Vaksin terbagi menjadi dua, yaitu :

• Vaksin mati, berasal dari virus atau bakteri yang dimatikan. Jenis vaksin ini menghasilkan antibodi pada tubuh karena ada antigen didalamnya. Tidak membahayakan janin jika dilakukan pada ibu hamil.
• Vaksin hidup, berasal dari virus atau bakteri yang dilemahkan. Virus ini dapat berpotensi menyebabkan penyakit itu sendiri, seperti rubella atau tetanus.

Vaksinasi TIDAK MENJAMIN kekebalan. Kekebalan alami terjadi hanya setelah seseorang pulih dari penyakit yang sebenarnya. Selama sakit, mikroorganisme biasanya harus melewati banyak sistem alami dalam pertahanan kekebalan tubuh hidung, tenggorokan, paru-paru, saluran pencernaan dan jaringan getah bening sebelum mencapai aliran darah. Seperti halnya mikroorganisme memicu banyak peristiwa biologis yang penting dalam membangun kekebalan alami. Ketika anak mendapat penyakit baru, ia mungkin merasa sakit selama beberapa hari, lalu ia akan sembuh. Satu-satunya perbedaan pada vaksinasi adalah Anda melakukannya secara buatan, dengan cara yang lebih aman.

 

Mungkin Anda bertanya-tanya mengapa orang mendapatkan vaksinasi jika mereka bisa mendapatkan kekebalan dengan cara alami?

Hal ini karena sebagian besar penyakit tidak memberikan kesempatan untuk hidup di luar serangan pertama. Pikirkan tentang penyakit seperti tetanus, cacar dan difteri. Jutaan orang di seluruh dunia meninggal karena penyakit yang ditakuti ini sebelum vaksin dikembangkan. Penyakit lain telah menyebabkan kerusakan permanen pada tubuh individu yang masih hidup. Apakah Anda ingin mengambil kesempatan kehilangan hidup atau menjadi cacat hanya untuk mencoba ‘cara alami?’

Hari ini, kita memiliki vaksin terhadap penyakit fatal seperti rubella, polio, tetanus dan pertusis. Upaya juga untuk mengembangkan vaksin pertama melawan flu babi yang ditakuti. Ketika Anda mendapatkan vaksin, maka anda akan mendapat perlindungan terhadap sejumlah penyakit dengan cara yang aman dan nyaman. Ini adalah salah satu keajaiban ilmu pengetahuan modern.

Meskipun vaksin memiliki tarif efektivitas yang sangat tinggi, mereka tidak benar-benar efektif untuk 100% dari orang-orang yang menerima mereka. Misalnya, serangkaian penuh vaksin campak akan melindungi 99 dari 100 anak-anak dari penyakit campak dan polio akan melindungi 99 dari 100 anak-anak dari penyakit polio. Ini berarti ketika ada wabah penyakit, jumlah yang sangat kecil untuk orang dengan vaksin tidak bekerja masih mungkin dapat terserang penyakit. Karena hampir semua anak-anak kita diimunisasi dan hanya sedikit yang tidak, itu bisa menjadi kasus yang selama epidemi sebagian besar kasus terjadi di kalangan anak-anak yang diimunisasi. Namun, kenyataannya tetap bahwa mereka yang belum menerima vaksin jauh lebih mungkin untuk menangkap penyakit. “

 

Vaksin atau imunisasi yang disarankan

Ada beberapa vaksin atau imunisasi yang disarankan untuk diberikan pada ibu hamil, bayi dan anak-anak, diantaranya :

1. DTaP-IPV-Hib (Difteri, Tetanus, Pertusis aseluler, Polio dan Hib)
DTaP-IPV-Hib (Difteri, Tetanus, Pertusis aseluler, Polio dan Hib / Haemophilus influenzae type B) adalah vaksin kombinasi yang diberikan dalam satu jarum. Ini adalah perlindungan terbaik anak Anda dapat memiliki terhadap 5 penyakit ini. Vaksin kombinasi yang sangat efektif dan tidak menimbulkan efek samping lebih banyak daripada jika diberikan oleh jarum terpisah. Anak-anak harus menerima vaksin atau imunisasi ini pada usia 2 bulan untuk membantu melindungi mereka terhadap penyakit ini. Biasanya diberikan pada saat yang sama dengan vaksin pneumokokus dan meningokokus.

Imunisasi DPT / DtaP-IPV-Hib  diberikan dalam “seri” untuk membantu membangun kekebalan yang kuat terhadap penyakit ini. Anak-anak menerima dosis pada:

•  2 bulan
•  4 bulan
•  6 bulan
•  18 bulan
•  4-6 tahun (kecuali Hib)

Perlindungan yang terbaik adalah jika anak Anda memiliki seluruh seri pada usia yang dianjurkan. Tapi itu tidak pernah terlambat untuk memulai. Boosters tetanus dan difteri dianjurkan setiap 10 tahun.

2. Hepatitis B
Hepatitis B adalah virus yang menyerang hati. Kebanyakan orang yang terinfeksi dapat sembuh sepenuhnya. Namun, hingga 10% dari anak-anak dan orang dewasa yang terinfeksi kronis (seumur hidup) hepatitis B. Vaksin Hepatitis B diberikan sebanyak tiga kali, yaitu saat bayi lahir, berumur satu dan enam bulan. Vaksin ini efektif mencegah terjadinya penyakit hepatitis.

3. HPV
Human Papillomavirus (HPV) adalah infeksi yang sangat umum dan ditularkan melalui kontak seksual. Diperkirakan bahwa lebih dari 70% orang akan memiliki minimal satu infeksi HPV genital dalam hidup mereka. Beberapa jenis infeksi HPV menyebabkan hampir semua kasus kanker serviks.
Vaksin HPV paling efektif apabila diberikan pada perempuan sebelum mereka mulai aktivitas seksual dan risiko eksposur terhadap HPV. Maka disarankan kepada pasangan yang akan menikah untuk melakukan serangkaian imunisasi HPV untuk mencegah kanker serviks. Selanjutnya imunisasi ini diberikan pada saat trimester pertama kehamilan atau anda juga bisa berkonsultasi dengan bidan atau dokter kandungan mengenai imunisasi apa saja yang harus dilakukan saat hamil.

4. BCG
Imunisasi ini Bacillus Calmette Guerin, adalah jenis imunisasi yang diberikan pada bayi untuk mencegah penyakit TBC, penyakit ini sering menyerang anak dibawah usia 12 tahun. Oleh sebab itu imunisasi BCG sangat diperlukan. Vaksin atau imunisasi ini juga mengurangi resiko tuberkulosis berat seperti meningitis TB (radang selaput otak yang disebabkan oleh bakteri TB).
Imunisasi BCG biasanya diberikan pada bayi ketika usianya 2 – 3 bulan, imunisasi ini dilakukan hanya satu kali karena imunisasi ini berisi kuman atau bakteri hidup dan membuat antibodi yang dihasilkan cukup tinggi.

5. Campak
Virus Campak mudah menjangkiti anak-anak, terutama anak dibawah usia lima tahun. Campak biasanya akan memicu komplikasi berupa pnemonia, radang telinga dan radang otak, bahkan banyak anak yang harus cacat seumur hidup akibat campak, seperti mengalami kebutaan atau tuli.
Maka imunisasi campak sangat penting diberikan pada anak sebagai tindakan pencegahan, biasanya diberikan saat anak berusia 9 bulan dan 6 tahun, namun apabila pada usia 15 bulan si kecil sudah mendapatkan vaksin MMR, Campak – 2 tidak diberikan.

Kenapa vaksinasi campak dilakukan saat usia bayi 9 bulan? Karena antibodi bawaan dari ibu (imunisasi pasif) masih ada hingga usia 9 bulan, dan setelah itu menghilang, sehingga perlu vaksinasi.

 

Efek yang timbul setelah imunisasi 

Beberapa bayi menunjukkan beberapa reaksi setelah mendapatkan imunisasi, beberapa efek yang timbul seperti :

• Demam, biasanya terjadi setelah imunisasi BCG, namun Anda tidak perlu khawatir, karena demam tidak akan berlangsung lama. Jika demam si kecil tak kunjung turun konsultasikan segera dengan dokter anak.
• Nyeri atau sakit pada bagian bekas imunisasi, nyeri setelah imunisasi juga tidak akan berlangsung lama.
• Bengkak dan benjolan kemerahan pada bagian bekas imunisasi, bengkak akan hilang dalam 1 sampai 2 minggu setelah imunisasi. Anda dapat mengompres area bengkak dengan air hangat agar si kecil merasa nyaman. Jika benjolan membesar dan bernanah konsultasikan segera pada dokter.

 

Jadi kesimpulannya ? VAKSINASI ITU PENTING!

Telah dibaca :3088
0

Vaksinasi masih perlukah ? (Bag-1)

December 27, 2014

Saat ini lagi gencar ke permukaan lagi artikel-artikel Anti-vaksin. Berikut salah satu artikel yang banyak disebar oleh oknum-oknum anti-vaks  :

SEORANG dokter di sebuah kota kecil di Jawa Barat beberapa tahun yang lalu berkata dalam sebuah forum: “Tiga anak saya satupun tidak ada yang diimunisasi. Dan mereka semua baik-baik saja!” Pernyataan sang dokter sontak membuat semua orang yang tengah bersamanya terkejut. Sebagian mengernyitkan kening. Sebagian lain tampak sudah tahu dari berbagai referensi terutama internet. Sebagian lain tiba-tiba saja menjadi was-was.

Dalam beberapa tahun belakangan ini, imunisasi menjadi sebuah perhatian besar bagi keluarga muda yang melek media dan teknologi.

Jika kita merunut sejarah vaksin modern yang dilakukan oleh Flexner Brothers, kita dapat menemukan bahwa kegiatan mereka dalam penelitian tentang vaksinasi pada manusia didanai oleh Keluarga Rockefeller. Rockefeller sendiri adalah salah satu keluarga Yahudi yang paling berpengaruh di dunia, dan mereka adalah bagian dari Zionisme Internasional.

Dan kenyataannya, mereka adalah pendiri WHO dan lembaga strategis lainnya : The UN’s WHO was established by the Rockefeller family’s foundation in 1948 the year after the same Rockefeller cohort established the CIA. Two years later the Rockefeller Foundation established the U.S. Government’s National Science Foundation, the National Institute of Health (NIH), and earlier, the nation’s Public Health Service (PHS). (Dr. Leonard Horowitz dalam “WHO Issues H1N1 Swine Flu PropagAnda”).

Dilihat dari latar belakang WHO, jelas bahwa vaksinasi modern (atau kita menyebutnya imunisasi) adalah salah satu campur tangan (baca : konspirasi) Zionisme dengan tujuan untuk menguasai dan memperbudak seluruh dunia dalam “New World Order” mereka.

Apa Kata Para Ilmuwan Tentang Vaksinasi?

“Satu-satunya vaksin yang aman adalah vaksin yang tidak pernah digunakan.” (Dr. James R. Shannon, mantan direktur Institusi Kesehatan Nasional Amerika).

“Vaksin menipu tubuh supaya tidak lagi menimbulkan reaksi radang. Sehingga vaksin mengubah fungsi pencegahan sistem imun.” (Dr. Richard Moskowitz, Harvard University).

“Kanker pada dasarnya tidak dikenal sebelum kewajiban vaksinasi cacar mulai diperkenalkan. Saya telah menghadapi 200 kasus kanker, dan tak seorang pun dari mereka yang terkena kanker tidak mendapatkan vaksinasi sebelumnya.” (Dr. W.B. Clarke, peneliti kanker Inggris).

“Ketika vaksin dinyatakan aman, keamanannya adalah istilah relatif yang tidak dapat diartikan secara umum.” (dr. Harris Coulter, pakar vaksin internasional)

“Kasus polio meningkat secara cepat sejak vaksin dijalankan. Pada tahun 1957-1958 peningkatan sebesar 50%, dan tahun 1958-1959 peningkatan menjadi 80%.” (Dr. Bernard Greenberg, dalam sidang kongres AS tahun 1962).

“Sebelum vaksinasi besar besaran 50 tahun yang lalu, di negara itu (Amerika) tidak terdapat wabah kanker, penyakit autoimun, dan kasus autisme.” (Neil Z. Miller, peneliti vaksin internasional).

“Vaksin bertanggung jawab terhadap peningkatan jumlah anak-anak dan orang dewasa yang mengalami gangguan sistem imun dan syarat, hiperaktif, kelemahan daya ingat, asma, sindrom keletihan kronis, lupus, artritis reumatiod, sklerosis multiple, dan bahkan epilepsi. Bahkan AIDS yang tidak pernah dikenal dua dekade lalu, menjadi wabah di seluruh dunia saat ini.” (Barbara Loe Fisher, Presiden Pusat Informasi Vaksin Nasional Amerika).

“Tak masuk akal memikirkan bahwa Anda bisa menyuntikkan nanah ke dalam tubuh anak kecil dan dengan proses tertentu akan meningkatkan kesehatan. Tubuh punya cara pertahanan tersendiri yang tergantung pada vitalitas saat itu. Jika dalam kondisi fit, tubuh akan mampu melawan semua infeksi, dan jika kondisinya sedang menurun, tidak akan mampu. Dan Anda tidak dapat mengubah kebugaran tubuh menjadi lebih baik dengan memasukkan racun apapun juga ke dalamnya.” (Dr. William Hay, dalam buku “Immunisation: The Reality behind the Myth”).

Dan masih banyak lagi pendapat ilmuwan yang lainnya. Dan ternyata faktanya di Jerman para praktisi medis, mulai dokter hingga perawat, menolak adanya imunisasi campak. Penolakan itu diterbitkan dalam “Journal of the American Medical Association” (20 Februari 1981) yang berisi sebuah artikel dengan judul “Rubella Vaccine in Suspectible Hospital Employees, Poor Physician Participation”. Dalam artikel itu disebutkan bahwa jumlah partisipan terendah dalam imunisasi campak terjadi di kalangan praktisi medis di Jerman. Hal ini terjadi pada para pakar obstetrik, dan kadar terendah lain terjadi pada para pakar pediatrik. Kurang lebih 90% pakar obstetrik dan 66% parak pediatrik menolak suntikan vaksin rubella.

Sumber artikel : http://www.islampos.com/apa-siapa-di-balik-vaksin-imunisasi-1067/

Cerita di atas adalah tentang seorang dokter yang dengan bangga cerita bahwa dia tidak memberikan imunisasi kepada anak-anaknya dan ternyata sehat-sehat saja. Kemudian banyak orang tua yang jadi galau mendengar cerita ini. Tentunya artikel tersebut telah dibumbui dengan tulisan hoax lama dari kaum antivaks.

Namun yang perlu Anda ketahui, bahwa ada puluhan juta dokter yg mengimunisasi anak-anaknya dan justru makin sehat, terhindar dari wabah penyakit ganas dan berbahaya. Kenapa anda justru galau gara gara kelakuan satu dua dokter yg antivaks?  Padahal dokter itu sendiri mengikuti hoax yg disebarkan justru bukan oleh ahlinya.

Ikut puluhan juta dokter yg benar ilmunya atau ikut beberapa gelintir dokter yang sudah termakan berita hoax?

Silahkan baca tanggapan seorang dokter lebih detail terhadap kampanye hitam di atas :

1. http://health.kompas.com/read/2012/05/17/14501446/20.Mitos.Kampanye.Hitam.Anti.Imunisasi

2. http://yanuarariefudin.wordpress.com/2012/05/10/kampanye-hitam-anti-vaksin-tidak-memusakan-akal-bag-3/

 

Lalu gimana sih konsep vaksinasi itu ? apa bedanya dengan imunasisasi ? silahkan simak di artikel Vaksinasi masih perlukah? (bag-2) 

Telah dibaca :615
0

Menjadi ayah yang baik

November 19, 2014

Banyak laki-laki bisa “bikin” anak tetapi tidak siap untuk menjadi seorang ayah yang baik dan bijaksana. Dan sayangnya lagi, sangat jarang dijumpai sekolah khusus yang mendidik laki-laki untuk menjadi seorang ayah, kecuali seminar atau workshop seperti Komunitas Ayah EDY. Dan itupun tergantung dari kemauan laki-laki sendiri sih.

Setiap ayah yang baik akan berjuang untuk tetap menjaga keseimbangan antara pekerjaan/bisnis, dirinya sendiri dan keluarga. Selain harus selalu intim dengan istri, seorang ayah harus tetap menjaga keintiman dengan anaknya juga.

Bagaimana caranya ?

1. Sediakan waktu khusus untuk anak

Waktu dan perhatian Anda adalah hadiah PALING INDAH bagi seorang anak. Anda bisa saja membelikan mereka mainan terkini, baju paling mahal, atau gadget terbaru. Namun, tak ada yang bisa menggantikan waktu dan perhatian Anda khusus untuk mereka. Kadang, anak hanya butuh pelukan atau sekadar bertengger di pelukan ayahnya. Jadi, Anda harus menyediakan waktu khusus bagi anak-anak Anda.

Sudah menyediakan waktu untuk anak ? Oh sudah ? mungkin saja sudah… Tapi jangan sampai ketika bermain dengan anak-anak, Anda malah justru sibuk bermain Handphone… Hal ini akan dilihat oleh anak dan akan terpatri dihatinya  : “Ayahku kok ga perhatian sama aku ya… malah sibuk tertawa-tawa membaca BBM”. Jika memang menyediakan waktu untuk anak, taruh semua Handphone, leptop, atau apapun itu hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan. Ingat prioritas Anda : (1) Tuhan, (2) Keluarga, baru setelah itu adalah (3) Pekerjaan. Jangan pekerjaan yang malah menjadi nomer 1.

Ketika ada waktu untuk liburan, ambil itu untuk berlibur bersama anak-anak. Menginap di hotel, bermain bersama dll. Jangan malah liburan untuk terus bekerja mencari uang!!!

 

2. Bukan cuma kualitas, tapi juga kuantitas

“Saya kan sudah menyediakan waktu berkualitas untuk anak ? ya memang cuma sebentar, 30 menit saja”… Hal ini seringkali menjadi pembenaran bahwa seorang ayah sudah memberikan yang terbaik untuk anaknya. Itu pikiran seorang laki-laki memang pakai logika. Padahal seorang anak ingin ditemani, diajarin, dibangun jiwanya, dibangun pemikirannya… dan ini tidak cukup hanya 30 menit.

 

3. Selalu jaga komunikasi yang intens

Mungkin Anda bekerja jauh dari keluarga, sering keluar kota karena tuntutan pekerjaan, tapi jangan jadikan hal ini menjadi penghalang untuk tidak selalu berkomunikasi dengan anak. Anda bisa menggunakan fitur FACETIME pada iphone yang memungkinkan komunikasi dengan bertatap muka (video). Dan ini bisa Anda lakukan dari mana saja selama ada jaringan. Setidaknya sehari 1 kali anda telfon untuk menanyakan keadaan mereka, menanyakan tentang pelajaran di sekolah, hingga memotivasi mereka untuk terus maju. Ini akan membuat Anda tetap menjadi FIGUR seorang AYAH yang dekat di hati mereka. Perhatian-perhatian seperti inilah yang akan tetap mereka kenang dan membuat jiwanya kuat di masa depan.

Tapi jangan sampai perhatian Anda itu kesannya OVER PROTECTIVE. Beri kepercayaan pada mereka. Biarkan mereka belajar MANDIRI.

 

4. Menjadi teladan, inspirator dan motivator

Ki Hadjar Dewantara meletakkan semboyan pendidikan : ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Dalam bahasa indonesia artinya : di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan.

Hal ini diadopsi oleh seorang penulis buku di luar menjadi :

Be a Model

Be an Inspirator

Be a Motivator

Anak akan mencontoh perilaku orang dewasa yang dilihatnya, termasuk perilaku orang tuanya. Makanya penting untuk memberikan teladan melalui kebiasaan yang baik, misalnya dengan bangun pagi-pagi, olahraga teratur, disiplin, tepat waktu. Selanjutnya adalah selalu memberikan inspirasi yang positif untuk anak-anak serta mendorong mereka untuk terus maju. Ketika anak ingin mengikuti festival band tingkat pelajar, sebagai seorang ayah sebaiknya menemaninya… Ini akan menjadi semacam SEMANGAT bagi anak dan akan tetap dikenangnya terus sepanjang masa : “Aku memiliki seorang Ayah yang baik, mau menemaniku saat festival band, mau berkenalan dengan teman-temanku… I love you pa”.

Ketika seorang anak belajar mencuci piring lalu menjatuhkannya, jangan buru-buru memarahinya… Peluk dia dan katakan “tidak apa-apa sayang…. nanti papa belikan lagi piringnya. Yang penting adik tidak terluka”.

Saya masih ingat ketika waktu usia 7 tahun saya diam-diam mengaduk semen dengan pasir lalu menempelkannya pada lantai yang retak. Saya tidak dimarahi, padahal saya takut dimarahi, dan malah justru diberi pujian : “Duh, anak pintar… ayo lakukan sayang, tidak apa-apa”. Hal itulah yang menumbuhkan rasa percaya diri saya untuk tidak takut mencoba sesuatu.

 

5. Jelaskan pekerjaan Anda

Dengan bertambahnya usia, pemikiran dan pemahaman anak akan semakin berkembang. Anda harus menjelaskan secara perlahan-lahan tentang apa pekerjaan Anda, misalnya dengan mengajaknya ke kantor Anda untuk melihat situasi di sana. Sehingga ketika mereka ada di rumah dan anda di kantor, mereka akan tahu bahwa Anda sedang bekerja. Ini langkah penting untuk membuat mereka belajar independen secara emosional. Cara ini juga menunjukkan perhatian Anda betapa berharganya mereka dan meyakinkan bahwa Anda selalu ada untuk mereka.

Saya masih ingat ketika masih SD sering diajak ayah (alm) ke sekolah, kebetulan Ayah saya adalah seorang kepala sekolah SD. Saya bisa bermain-main di taman, diajak ngobrol oleh guru-guru dst. Saya masih ingat hampir semua kejadiaan kala itu, baik yang menyenangkan maupun menyakitkan.

 

6. Nikmati peran Anda :)

Menjadi seorang ayah adalah tanggung jawab yang cukup besar dan bukan sesuatu yang mudah.

Nikmatilah peran ini, tunjukkan bahwa Anda sangat menikmatinya. Have FUN!

 

To all :
✓ Single men
✓ Married men
✓ A father
✓ Father-to-be…

Statistik membuktikan bahwa orang² yang kehilangan kasih sayang dari ayahnya akan tumbuh dengan kelainan perilaku, kecenderungan bunuh diri dan menjadi kriminal yang kejam.

Sekitar 70 % dari penghuni penjara dengan hukuman seumur hidup adalah orang² yang bertumbuh tanpa ayah.

Para ayah….

Anda dirindukan dan dibutuhkan oleh anak² Anda.

Jangan habiskan seluruh energi dan pikiran di tempat kerja, sehingga waktu tiba di rumah para ayah hanya memberikan ”sisa-sisa” energi dan duduk menonton TV.

Peluk anak² Anda, dengarkan cerita mereka, ajarkan kebenaran & moral.

Dan Anda tidak akan menyesal……
karena anak² Anda akan hidup sesuai jalan yang Anda ajarkan dan persiapkan.

Ayah yang sukses bukanlah pria paling kaya atau paling tinggi jabatannya di perusahaan, sibuk dalam kegiatan sosial/ibadah atau di lembaga pemerintahan, tetapi seorang pria yang anak lakinya berkata:

“Aku mau menjadi seperti ayahku nanti”

atau anak perempuannya berkata:

“Aku mau punya seorang suami yang seperti ayahku”

Telah dibaca :2462
0
You might also likeclose