Jangan Suka “Aji Mumpung”

Siapa yang tidak pernah tergoda untuk “aji mumpung” ? Mumpung ditraktir makan oleh orang kaya di restoran, biar mereka yang traktir, kita pesan makanan yang mahal-mahal….. Mumpung di kondangan/resepsi, kita ambil makanan sampai berlebihan…. Mumpung ada orang yang butuh pertolongan kita, maka kita iseng-iseng minta uang/upah yang berlebihan. Saya kira semua kita pasti pernah melakukan tindakan bodoh dan tidak terpuji ini.

Aji mumpung adalah salah satu penyakit mental yang perlu kita waspadai dan hindari, karena akan berujung pada menumbuhkan sifat serakah dan berakhir dengan penyesalan. Meski sudah mendapat berbagai fasilitas dari perusahaan ataupun instansi tempat bekerja,  bila seseorang tidak menjaga hatinya dari penyakit ini, maka akan bisa menjadi kebiasaan yang mendarah daging, bahkan bisa menular ke teman-teman kerjanya dan menjadi budaya.

“Selagi ada kesempatan, kapan lagi donk?”

Begitulah kira-kira pikiran orang yang sedang dipengaruhi oleh “aji mumpung”.

Mumpung lagi menjabat, kapan lagi kalau kesempatan “KKN” ini tidak diambil ?? Nyesel lho nanti. Kalau tidak kita ambil, maka akan diambil orang lain. Orang lain yang enak, kitanya pun malah bisa kena getahnya.

Ajakan atau bisikan halus ini entah darimana datangnya, apakah mungkin dari setan? Namun sesungguhnya aji mumpung ini bisa berkonotasi negatif maupun positif tergantung kepribadian orangnya.

Berikut contoh Aji Mumpung yang Positif :

1. Mumpung ada waktu atau kesempatan, ayo kita gunakan untuk berbuat baik!

2. Mumpung badan kita sedang sehat, ayo kita terus jaga dengan makanan yang sehat!

Dan contoh aji mumpung yang negatif :

1. Mumpung bos tidak ada, maka saya main game saja, terus setelah ini keluar sebentar cari angin segar di mall.

2. Mumpung tidak ada yang tahu, maka saya ambil barang ini.

3. Mumpung ada kesempatan untuk menggunakan fasilitas kantor, saya gunakan saja untuk menjalankan bisnis saya.

4. Mumpung sedang menjabat, saya manfaatkan wewenang untuk keperluan pribadi

5. Mumpung ada yang berbaik hati ngasi “hadiah” (sogokan/pelicin), ya saya terima saja. Lagian juga tidak merugikan perusahaan.

6. Mumpung ada orang yang sangat butuh, saya naikkan saja harga barang saya dengan tidak wajar.

7. Mumpung ada orang yang sangat butuh mendesak, saya naikkan saja harga jasa pekerjaan yang saya jual.

Aji Mumpung (fraud) timbul karena adanya KESEMPATAN. Dalam banyak kasus korupsi yang terjadi, sebagian besar disebabkan oleh terbukanya peluang, atau peluang yang sengaja dicari-cari oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Peluang tadi dimanfaatkan oleh orang-orang tersebut untuk melihat dan mencari celah apa yang dapat dimanfaatkan, dan bila ada maka sifat jelek yang bernama “Si Aji Mumpung” pun siap beraksi. Dari hal ini, maka prinsip, pola pikir dan pola tindak Aji Mumpung merupakan akar & pemicu terjadinya Fraud, yang harus dikikis dan dihindari dari sejak dini.

Selain itu, perlu kita waspadai pula, bahwa pola pikir Aji Mumpung ini seperti wabah penyakit yang mudah sekali menular kepada orang lain. Orang yang tadinya berkarakter baik dapat terpengaruh dan terseret oleh lingkungannya yang didalamnya terdapat sekelompok orang yang menganut prinsip yang sama! karena di”kompori”/dipengaruhi, diberi angan-angan hasilnya bisa segera dinikmati bersama, tidak akan ketahuan, dan kalaupun ketahuan ya ditanggung bersama-sama?? Dan tragisnya ternyata ketahuan! semua pelakunya harus menanggung konsekuensi ataupun akibatnya. Tapi biasanya ada satu yang akan “dikorbankan”.

Prinsip, pola pikir dan pola tindak Aji Mumpung pada dasarnya akan membentuk karakter dan mentalitas negatif pula pada diri seseorang! Hindari prinsip Aji Mumpung ini karena ia adalah bisikan yang akan membuat kita “miskin papa” (miskin mental, papa = Panjang Angan-angan sehingga Pendek Akal).

Aji mumpung membuat urusan kita tidak rampung-rampung. Masalah yang ditimbulkanpun akan semakin menggunung dan akibatnya bisnis pun tidak untung.

Untuk itu, istilah Aji Mumpung tadi hendaknya harus dilihat secara positif, ditempatkan sesuai porsinya, dan dilakukan pada timing yang tepat agar berdampak positif pada diri dan lingkungan dimana kita berada.

Mari kita lakukan segala sesuatunya yang terbaik sesuai dengan tatanan, etika, dan aturan/rules yang berlaku, JUJUR berlandaskan Akhlak Budi Pekerti dan Integritas yang kokoh. Bukan sekedar kata-kata indah, tetapi BUKTIKAN dengan tindakan nyata!!!

Contoh melatih diri untuk tidak aji mumpung dalam hal kecil : Jika ditraktir orang, dan orang itu mempersilahkan untuk mengambil semua yang Anda suka, janganlah AJI MUMPUNG. Ambillah seperlunya saja. Atau katakan begini : “Saya tak ngikut bapak/ibu saja”, atau : “bapak/ibu saja yang pilihkan”. Atau kalau memang tetap dipaksa untuk memilih sendiri, maka pilihlah yang wajar-wajar saja.

Sebagai orang tua, ajari anak-anak untuk tidak aji mumpung. Misalnya saat anak-anak ditraktir oleh tantenya, ajari untuk berkata begini : “Saya dipilihkan saja tante, saya ikut tante saja”.

Artikel ini mudah-mudahan dapat digunakan sebagai media introspeksi dan reminder untuk kita bersama agar tidak menggunakan prinsip Aji Mumpung secara negative, tetapi harus sebaliknya. Ini semua untuk mendukung upaya meminimalisir risiko operasional yang disebabkan oleh Sikap “Fraud”.

931 Total Views 1 Views Today

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: