Jangan Suka “Aji Mumpung”

Siapa yang tidak pernah tergoda untuk “aji mumpung” ? Mumpung makan bersama dengan orang kaya, biar mereka yang traktir. Mumpung ada orang yang butuh pertolongan kita, maka kita iseng-iseng minta uang. Saya kira semua kita pasti pernah melakukan tindakan bodoh dan tidak terpuji ini.

Aji mumpung adalah salah satu penyakit mental yang perlu kita waspadai dan hindari, karena akan berujung pada keserakahan dan penyesalan. Meski sudah mendapat berbagai fasilitas dari perusahaan ataupun instansi tempat bekerja,  bila seseorang tidak menjaga hatinya dari penyakit ini makan akan bisa menjadi kebiasaan yang mendarah daging, bahkan bisa menular teman-teman kerjanya dan menjadi budaya.

“Selagi ada kesempatan, kapan lagi donk?”

Begitulah kira-kira pikiran orang yang sedang dipengaruhi oleh “aji mumpung”.

Mumpung lagi menjabat, kapan lagi kalau kesempatan “KKN” ini tidak diambil. Nyesel lho nanti. Kalau tidak kita ambil, maka akan diambil orang lain. Orang lain yang enak, kitanya pun malah bisa kena getahnya.

Ajakan atau bisikan halus ini entah darimana datangnya, apakah mungkin dari setan? Namun sesungguhnya aji mumpung ini bisa berkonotasi negatif maupun positif tergantung kepribadian orangnya.

Berikut contoh Aji Mumpung yang Positif :

1. Mumpung ada waktu atau kesempatan, ayo kita gunakan untuk berbuat baik

2. Mumpung badan kita sedang sehat, ayo kita terus jaga dengan makanan yang sehat

Dan contoh aji mumpung yang negatif :

1. Mumpung bos tidak ada, maka saya main game saja, terus setelah ini keluar sebentar cari angin segar di mall

2. Mumpung tidak ada yang tahu, maka saya ambil barang ini

3. Mumpung ada kesempatan untuk menggunakan fasilitas kantor, saya gunakan saja untuk berbisnis

4. Mumpung sedang menjabat, saya manfaatkan wewenang untuk keperluan pribadi

5. Mumpung ada yang berbaik hati ngasi hadiah, ya saya terima saja. Lagian juga tidak merugikan perusahaan.

Aji Mumpung (fraud) timbul karena adanya KESEMPATAN. Dalam banyak kasus korupsi yang terjadi, sebagian besar disebabkan oleh terbukanya peluang, atau peluang yang sengaja dicari-cari oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Peluang tadi dimanfaatkan oleh orang-orang tersebut untuk melihat dan mencari celah apa yang dapat dimanfaatkan, dan bila ada maka si Aji Mumpung pun siap beraksi. Dari hal ini, maka prinsip, pola pikir dan pola tindak Aji Mumpung merupakan akar & pemicu terjadinya Fraud, yang harus dikikis dan dihindari.

Selain itu perlu kita waspadai pula, bahwa pola pikir Aji Mumpung ini seperti wabah penyakit yang mudah sekali menular kepada orang lain. Orang yang tadinya berkarakter baik dapat terpengaruh dan terseret oleh lingkungannya yang didalamnya terdapat sekelompok orang yang menganut prinsip yang sama! karena di”kompori”/dipengaruhi, diberi angan-angan hasilnya bisa segera dinikmati bersama, tidak akan ketahuan, dan kalaupun ketahuan ya ditanggung bersama-sama? Dan tragisnya ternyata ketahuan! semua pelakunya harus menanggung konsekuensi ataupun akibatnya.

Prinsip, pola pikir dan pola tindak Aji Mumpung pada dasarnya akan membentuk karakter dan mentalitas negatif pula pada diri seseorang! Hindari prinsip Aji Mumpung ini karena ia adalah bisikan yang akan membuat kita “miskin papa” (miskin mental, papa = Panjang Angan-angan sehingga Pendek Akal). Aji mumpung membuat urusan kita tidak rampung-rampung, masalah yang ditimbulkanpun akan semakin menggunung dan akibatnya bisnis pun tidak untung.

Untuk itu istilah Aji Mumpung tadi hendaknya harus dilihat secara positif ditempatkan sesuai porsinya dan dilakukan pada timing yang tepat agar berdampak positif pada diri dan lingkungan dimana kita berada.

Mari kita lakukan segala sesuatunya yang terbaik sesuai dengan tatanan, etika, dan aturan/rules yang berlaku, JUJUR berlandaskan Akhlak Budi Pekerti dan Integritas yang kokoh. Bukan sekedar kata-kata indah, tetapi BUKTIKAN dengan tindakan nyata.

Jika ditraktir orang, dan orang itu mempersilahkan untuk mengambil semua yang Anda suka, janganlah AJI MUMPUNG. Ambillah seperlunya saja. Atau katakan begini : “Saya tak ngikut bapak/ibu saja”.

Ajari anak-anak untuk tidak aji mumpung. Misalnya saat anak-anak ditraktir oleh tantenya, ajari untuk berkata begini : “Saya dipilihkan saja tante, saya ikut tante saja”.

Artikel ini mudah-mudahan dapat digunakan sebagai media introspeksi dan reminder untuk kita bersama agar tidak menggunakan prinsip Aji Mumpung secara negative, tetapi harus sebaliknya. Ini semua untuk mendukung upaya meminimalisir risiko operasional yang disebabkan oleh Fraud.

Sumber : https://www.kompasiana.com/tomyperucho3928/5efc5566d541df2677592ff5/hati-hati-aji-mumpung?page=1

53 Total Views 2 Views Today

Tinggalkan komentar