Tips saat Anda bertengkar

Maret 17, 2014

Sebagai manusia, kita tidak pernah terlepas dari yang namanya salah paham, salah pengertian, salah tangkap, salah dalam membaca bahasa tubuh.

Seringkali pula kita mengartikan sendiri apa yang sedang orang lain pikirkan, padahal belum tentu orang itu sedang berpikir demikian. Apalagi dalam hubungan sebagai suami-istri, dalam 5 tahun pertama pernikahan umumnya sering terjadi PERTENGKARAN akibat proses adaptasi dan tidak bisa mengendalikan ego masing-masing. Hal sepele saja bisa menjadi BESAR.

https://i1.wp.com/i.imgur.com/7kw5p8b.png

Dalam hubungan keluarga, kasih adalah sebuah tindakan. Dan kasih menutupi segala pelanggaran. Di sinilah butuh sebuah KEMURAHAN HATI dan kedewasaan dalam berpikir.

Kemurahan hati untuk mengampuni. Kemurahan hati untuk melupakan kesalahan orang lain dan tidak menungkit-ungkit.

Kedewasaan pikiran untuk melihat masalah dari semua sudut, tidak gampang meluapkan emosi yang meledak-ledak. Kemampuan “menahan diri” juga harus dimiliki oleh semua individu.

Dan dalam hubungan suami istri, apalagi masih kurang dari 5 tahun, maka pertengkaran bisa saja sering terjadi karena penyesuaian kebiasaan dan pola pikir yang berbeda. Jika sedang bertengkar, berusahalah untuk sadar bahwa “rasa cinta Anda harus melebihi rasa benci dan kecewa Anda.”

Jangan biarkan ada kepahitan. Kepahitan adalah racun dalam pernikahan.

Jika istri lagi marah, suami harus bisa menahan diri untuk tidak marah, sekalipun si suami merasa direndahkan. Orang marah itu pasti jelek dan kata-katanya tidak enak didengar. Pada saat seperti itu, diam sajalah, terima luapan emosinya dengan tidak perlu memasukkan dalam hati.

Emosi itu perlu untuk diluapkan, salah satunya memang dengan marah tadi. Daripada dipendam terus hingga jadi kanker, sebaiknya diluapkan.

Saya biasa bertengkar sekitar 10-30 menit. Setelah itu pasti turun emosinya dan tertawa terbahak-bahak dan baikan lagi : “Eh, tadi ngapain ya kok marah-marah gitu?”… Biasanya sih karena JENGKEL atau istri lagi Sensitif (baca : datang bulan).

Bahkan kadang karena pertengkaran itu kedua pribadi bisa saling lebih mengenal dan menyayangi… So sweet! Tapi alangkah baiknya jika berbicara dengan lembut agar tidak ada yang tersakiti. “Hidup berdua saja kok saling menyakiti ? siapa yang seneng coba ?”

Orang lain hanyalah alat, dan peristiwa adalah background dimana Tuhan sedang berkarya untuk menempa diri kita menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari.

Orang terdekat kitalah yang bisa melukai kita sangat dalam. Tapi di situlah kita belajar arti pengampunan dan cinta yang sesungguhnya

Telah dibaca :4855

Leave a Reply