Tips memilih rumah di perumahan

Bisnis property saat ini sepertinya sedang menurun. Banyak marketing perumahan yang mengeluh susahnya menjual “dagangannya”, terutama untuk rumah dengan harga 400 juta ke atas. Hal ini didukung dengan banyaknya orang pribadi yang menjual rumahnya karena kebutuhan yang mendesak dan harga-harga yang terus naik. Kondisi saat ini memang tengah krisis dan kemungkinan masih akan terus terjadi hingga tahun 2018 – 2020.

Namun apapun itu, rumah merupakan kebutuhan yang cukup penting. Saya merasakan dulu sewaktu sudah menikah dan tinggal di perumahan “mertua indah”, kemandirian itu tidak muncul, masih tetap seperti anak… Hehehe.. Ya, ini memang tergantung individu masing-masing. Berhubung kami ingin belajar hidup mandiri, akhirnya carilah kontrakan. Didapatlah rumah kontrakan tipe 45 di Perum. Royal Garden, Jong Biru, Kediri. Waktu itu tahun 2012 harga sewanya sebesar 12 juta/tahun. Wow! Rumah sebesar itu sudah cukup untuk ditinggali berdua karena terdiri dari 2 kamar, 1 kamar mandi dan dapur. Ruang kerja jadi satu dengan ruang tamu 🙂

Tapi bagaimanapun juga, tinggal di kontrakan itu tidak serasa seperti tinggal di rumah sendiri. Karena kita mau menghias juga kadang ga diperbolehin sama pemilik rumah. Bahkan terkadang rumahnya bocorpun disuruh benerin sendiri.

Setelah mencari-cari dan sambil mengumpulkan uang, akhirnya ketemulah perumahan yang menurut saya cukup bagus karena masih di tengah-tengah kota kediri. Waktu itu uang saya ga cukup dan saya sangat anti sekali dengan KREDIT BANK! Tapi dengan terpaksa, saya akhirnya kredit juga… LOL

Dari pengalaman itu, berikut ini saya tuliskan tips memilih rumah di perumahan BERDASAR PENGALAMAN SAYA :

1. Lokasi

Lokasi merupakan faktor yang sangat penting. Seorang teman saya punya 2 rumah, satu rumah dekat dengan perkantoran dan universitas, dan 1 rumah ada di pelosok kota. Rumah yang pertama relatif lebih mudah deal dengan calon pengontrak. Sedang rumah kedua sangat susah, padahal harga sudah diturunkan. Kondisi rumah sih dua-duanya biasa-biasa aja memang.

Untuk itu, perhatikan benar lokasinya. Memang yang dekat dengan perkantoran atau universitas agak mahal, tapi nilai investasinya tentu akan lebih bagus. Mau dikontrakkan, dikostkan atau dijual lagi ? Itu terserah Anda.

Dekat dengan fasilitas umum (fasum), seperti Mall, Rumah Sakit, Bank juga menjadi nilai PLUS.

 

2. Lingkungan

Anda harus paham betul lingkungan seperti apa yang Anda inginkan. Apakah lingkungan para pebisnis ? Kalau ini mau Anda, carilah perumahan dengan harga di atas 700 juta. Umumnya perumahan dengan harga segini jumlah rumahnya tidak terlalu banyak, maksimal 30 rumah dan one gate system sehingga Anda tidak perlu memasang pagar di depan rumah karena sudah ada penjagaan keamanan 24 jam.

Memang kalau perumahan baru dibangun, kadang ga tahu tetangga kanan kirinya siapa. Ya beruntung kalau dapat tetangga yang baik, yang ga suka ngrumpi (rasan-rasan/ gosip) ataupun sering bikin keramaian malam-malam (karaokean dll). Tapi kalau perumahan sebagian sudah ada yang menempati, coba lihat sekilas karakter orangnya seperti apa. 

Lingkungan di luar perumahan juga perlu diperhatikan. Apakah ada preman ? atau di situ lingkungannya para maling dan pengangguran ? Jalan masuk yang dilewati apakah sempit atau lebar ? Sering banjir kalau hujan ?

Satu hal lagi, jangan terkecoh dengan harga murah tapi rumahnya bagus-bagus. Beberapa yang pernah saya lihat, ternyata tanahnya itu bekas pembunuhan massal. Hiii serem 😀

 

3. Developer

Pengalaman bertahun-tahun bukanlah jaminan bahwa sebuah perusahaan developer akan bagus dalam memberikan service ke customer. Anda bisa lihat perumahan-perumahan yang pernah dibuatnya. Apakah carut marut ? jalanannya jelek ? Yes, biasanya itu juga yang akan terjadi.

Bahkan ada pemilik developer yang selalu berada di balik layar. Yang turun di lapangan adalah anak buahnya. Tidak mau turun ke customer untuk mendengarkan apa yang menjadi keinginan dan kekecewaan mereka. Mungkin karena mereka tidak hanya mengerjakan 1 perumahan saja dalam waktu bersamaan.

 

4. Ukuran yang cukup

Menurut saya, idealnya rumah untuk suami istri dan 1-2 orang anak adalah minimal Luas Tanah 9 x 19 m2 dan Luas Bangunan 9x 14m2 (tipe 125). Dengan menyiasakan ruang kosong tentunya untuk gudang. Lantai 2 bisa dibuat untuk taman, gazebo dll (terbuka). Lebih kecil dari ukuran ini adalah tipe 65 (Luas tanah 95m2), cukup untuk pasangan yang belum punya anak atau hanya sekedar dikontrakkan atau buat kantor dengan 10 orang pekerja.

Mungkin Anda bisa beli dulu sesuai budget. Baru setelah ada uang cukup, Anda bisa membeli yang lebih besar.

 

5. Listrik, Air dan jaringan internet

Sewaktu masih kontrak, jaringan telfon belum ada. Duh, mana internet byar pet byar pet.. Hehehe… Tapi bersyukur sekarang sudah menggunakan fiber optic dari indihome di rumah sendiri.

Jika Anda membutuhkan koneksi internet yang stabil, maka perhatikan hal ini. Saya pernah berencana membeli rumah tipe 65 di pekanbaru, tapi ternyata lokasi jauh sekali dari kantor telkom, sekitar 6km, mana belum ada jaringan fiber optic.

Kualitas air tanah juga menentukan. Jika kualitasnya jelek, maka PDAM harus ada.

 

6. Keamanan

Perumahan yang one gate system, tidak dilewati oleh warga kampung lain, dengan keamanan 24 jam sangat dibutuhkan jika memang kita beli rumah untuk ditempati.

 

Dari tips-tips di atas, tentu masih banyak lagi yang bisa jadi pegangan. Nanti akan saya update.

Dan jika Anda sudah punya rumah tempat tinggal dan punya uang lebih untuk investasi, jangan buru-buru beli di perumahan. Lebih baik cari tanah terus bangun sendiri. Hal ini bisa lebih murah sekali dibanding beli di perumahan. Apalagi beli tanah di desa (sawah), bisa dapat lebih luas sekali dibanding di kota.

Telah dibaca :1455

Tinggalkan komentar