Mengenali Mata Malas (Lazy Eye) dan Cara Mengatasinya

Mei 13, 2018

Mata malas (lazy eye), yang dalam bahasa aslinya disebut ambliopia, merupakan penurunan tajam penglihatan akibat abnormalitas (cacat) pada perkembangan penglihatan pada bayi dan anak di Otak. Mata malas terjadi pada sekitar 2-4% anak usia prasekolah dan menjadi penyebab tertinggi penurunan tajam penglihatan pada anak. Ini biasanya menyerang bayi prematur, bayi dengan bobot badan ringan, dan keluarga yang mempunyai riwayat mengidap katarak.

Otak manusia membutuhkan stimulasi visual untuk berkembang sepenuhnya. Pada saat perkembangan anak sejak lahir hingga usia 8 tahun, apapun yang menghalangi atau menggangu jelasnya penglihatan dapat menyebabkan ambliopia.

Mata malas terjadi ketika bagian saraf yang menghubungkan mata dengan otak tidak merespon rangsangan dengan baik. Sehingga, otak hanya mengirimkan sinyal kepada mata yang sehat saja, ini menyebabkan gangguan penglihatan pada mata lainnya dan terlihat sayu (sedih). Gejalanya kerap dikeluhkan saat anak mulai sekolah karena pada masa ini anak mulai banyak belajar lewat kemampuan visual.

Mata malas (ambliopia) biasanya hanya mempengaruhi satu mata, tetapi apabila kedua mata kurang mendapat visual yang baik dan jelas untuk periode yang berkepanjangan, kondisi dapat timbul pada kedua mata. Deteksi dini mata malas pada anak merupakan hal penting karena terapi dini memiliki angka keberhasilan lebih tinggi dalam mencegah kebutaan permanen.

Tajam penglihatan manusia mulai berkembang sejak usia bayi dan menjadi sempurna pada usia 5 tahun. Perkembangan tajam penglihatan ini dipengaruhi oleh rangsangan visual yang masuk ke mata. Apabila mata mendapat rangsangan visual yang cukup, maka mata dapat berkembang dengan sempurna. Apabila salah satu atau kedua mata mendapatkan rangsangan yang kurang, maka perkembangan tajam penglihatan mata tersebut akan terhambat dan membuat tajam penglihatan menurun atau mata akan menjadi malas.

Penyebab mata malas

Mata malas dapat disebabkan oleh beberapa kondisi. Penyebab tersering dari mata malas adalah strabismus atau mata juling. Pada mata juling, kedua mata tidak mampu menyatukan gambar yang diambil oleh satu mata dengan mata lainnya. Akibatnya, otak hanya akan memilih gambar dari satu mata dan mengabaikan yang lainnya. Dengan demikian, mata dominan akan berkembang sempurna, sedangkan mata yang lain tidak dapat berkembang semestinya dan cenderung menjadi malas untuk bergerak.

Penyebab kedua tersering adalah masalah tajam penglihatan (refraksi). Penurunan tajam penglihatan (rabun dekat, rabun jauh, dan silinder atau astigmatisma) yang berat pada kedua mata dapat menyebabkan kedua mata tidak mendapat rangsangan visual yang cukup untuk menunjang perkembangan tajam penglihatan dan akhirnya akan menyebabkan mata malas. Kondisi ini diperberat apabila koreksi menggunakan kacamata terlambat dilakukan. Perbedaan tajam penglihatan yang jauh berbeda antar kedua mata juga dapat menyebabkan mata malas. Tajam penglihatan yang jauh berbeda akan memberikan fokus gambar yang jauh berbeda pula antara kedua mata. Hal ini berakibat mata yang memiliki tajam penglihatan lebih baik akan sering dipakai, sedangkan mata yang lainnya tidak dipakai dan akan menjadi malas (tidak berkembang).

Penyebab lainnya adalah penurunan tajam penglihatan akibat adanya kelainan pada mata, seperti katarak, luka pada bola mata, atau kelainan pada kelopak mata seperti kelopak mata turun sehingga menutupi mata (ptosis).

Selain itu, penyebab lainnya adalah tumor, pada beberapa kasus Amblyopia merupakan tanda pertama dari tumor mata (retinoblastoma).

Kelainan-kelainan tersebut menyebabkan mata tidak mendapat rangsangan visual yang cukup. Bila tidak diatasi sejak dini, kelainan-kelainan ini akan menyebabkan mata malas.

Jadi apa yang membuat anak saya beresiko mengidap Mata Malas (Ambliopia)?

– Refraktif (Refractive), gangguan penglihatan karena pembiasan cahaya yang tidak tepat, seperti silinder, rabun jauh, atau rabun dekat dan Astigmatisma yang besar.
– Perbedaan ukuran kacamata yang besar antara mata satu dengan lainnya
– Deprivasi (Deprivation), mata mengalami gangguan berupa penghalang pada lapisan mata yang membentuk kabut (katarak). Gangguan penglihatan karena cacat sejak lahir seperti kelopak mata turun (ptosis), katarak atau luka pada mata
– Strabismus atau mata juling dimana mata yang tidak sejajar tidak digunakan. Ini akibat ketidakseimbangan otot saraf pada mata sehingga mata tidak dapat berkoordinasi dengan baik.

– Pada kasus tertentu, gejala bisa tidak nyata sehingga perlu dilakukan pemeriksaan melalui skrining penglihatan (vision screening). Pemeriksaan ini bisa dimulai saat anak belum bisa menyatakan keluhannya yaitu dari bayi baru lahir, usia pra sekolah, dan saat sekolah.

 

Deteksi Dini

Deteksi dini mata malas pada bayi dan anak umumnya tidak mengeluhkan secara langsung adanya kelainan pada matanya. Anak dengan mata malas, umumnya mengalami kesulitan dalam melihat, memiliki posisi bola mata anak tidak simetris, atau sering memiringkan kepalanya. Pemeriksaan tajam penglihatan dan kelainan pada mata perlu dilakukan pada anak dengan keluhan seperti ini.

Tingginya angka kejadian mata malas serta buruknya hasil terapi yang terlambat dilakukan menyebabkan skrining menjadi penting untuk dilakukan. Setiap anak berusia 3-5 tahun direkomendasikan untuk melakukan pemeriksaan mata pada dokter mata untuk deteksi dini mata malas serta faktor risikonya. Terapi sudah bisa dimulai sejak usia 3-5 tahun, dan memberikan hasil yang memuaskan. Apabila terapi baru dilakukan setelah usia 7 tahun, umumnya hasil yang didapat kurang memuaskan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh orangtua bahwa orangtua merupakan lini terdepan dalam deteksi dini mata malas pada anak. Hampir sepertiga kasus mata malas berhasil dideteksi karena adanya kecurigaan orangtua. Anak yang mengalami kesulitan dalam melihat, memiliki posisi bola mata anak tidak simetris antara kiri dan kanan, atau anak sering memiringkan kepalanya saat melihat harus segera dibawa ke dokter mata untuk evaluasi lebih lanjut. Skrining pada usia 3-5 tahun juga perlu dilakukan walaupun anak tidak menunjukkan tanda-tanda apapun yang disadari oleh orangtua.

Waspadai kemungkinan adanya lazy eyes, bila terdapat riwayat berikut:

  • Lahir prematur dengan usia kehamilan kurang dari 32 mingg atau berat kurang dari 1500 gram.
  • Berat lahir antara 1500-2000 gram, dengan riwayat kesulitan bernapas atau gangguan lain.
  • Keluarga ada yang mengalami katarak sejak lahir, tumor mata, penyakit keturunan yang mengenai mata
  • Atau bila ada salah satu jawaban ya di antara pertanyaan berikut :
    • Apakah penglihatan anak kurang baik ?
    • Apakah anak memegang benda terlalu dekat dengan matanya untuk dapat melihat benda tersebut dengan baik ? Atau pada anak yang lebih besar bila ia sering melihat TV terlalu dekat atau memiringkan kepalanya saat menonton TV.
    • Apakah matanya terlihat juling, bergerak tidak sama ?
    • Apakah matanya terlihat tidak seperti biasanya ?
    • Apakah kelopak matanya cenderung turun ?

Beberapa faktor risiko dapat menyebabkan ambliopia, dan faktor risiko ini dapat ditemukan lewat pemeriksaan dini. Bila kelainan ini tidak dikoreksi, ambliopia bisa bersifat permanen saat anak tumbuh dewasa.

Diagnosa dini meningkatkan kemungkinan suksesnya pengobatan, karena setelah usia 8 tahun, kerusakan visual dapat menjadi permanen. Sebaliknya, jika anak anda tidak mengalami ambliopia hingga usia 8 tahun, maka kemungkinan untuk mengidap ambliopia sangatlah kecil.

 

Pemeriksaan Medis

Pemeriksaan mata pada anak bisa berbeda, bergantung usianya misal:

  • Pada bayi yang baru lahir, tes dilakukan dengan perangkat bernama Ophthalmoscope untuk melihat kemungkinan adanya katarak.
  • Pada bayi (infants), tes dilakukan dengan bantuan objek bergerak untuk mengetahui respon pergerakan mata, sekaligus melihat potensi adanya mata juling (Strabismus).
  • Pada balita (toddlers), tes dilakukan dengan Photo screening, Red reflect test, atau Autorefraction.
  • Pada anak-anak pra sekolah, tes dilakukan dengan huruf dan gambar dengan menutup sebelah mata.

Pemeriksaan mata juga berfungsi untuk melihat kemungkinan terjadinya peradangan, tumor ataupun masalah pada organ dalam mata.

 

Tanda dan gejala

Anak yang mengidap ambyopia biasanya tidak mengeluh tentang penglihatan yang buruk, sehingga masalah ini terkadang baru diketahui saat penglihatan kedua mata diperiksa (contohnya saat tes mata di sekolah). Kadang kala, orang tua menyadari bahwa mata anaknya juling (strabismus) yaitu ketika satu mata tampak tidak sejajar dengan mata lainnya. Dalam kondisi tertentu ini (contohnya keberadaan strabismus, kelopak mata turun, atau halangan pada aksis visual), dokter anda perlu memeriksa penglihatan anak anda untuk keberadaan ambliopia secara teratur.

 

 

Terapi

Terapi mata malas membutuhkan waktu yang lama. Orangtua wajib memastikan anaknya menjalani terapi dengan teratur setiap hari dengan memasang penutup mata atau memberikan obat-obatan sesuai jadwal, serta memastikan anak melakukan aktivitas yang dapat merangsang mata saat memakai penutup mata atau obat, misalnya menulis dan menggambar

Pertama, jika ada ketidaknormalan ukuran kacamata, anak perlu diberikan kacamata yang sesuai untuk digunakan sepanjang waktu. Kemudian, anak perlu didorong untuk menggunakan mata yang malas. Ini biasanya dilakukan dengan menambal atau menutup mata yang baik, biasanya untuk beberapa jam setiap hari. Pengobatan mungkin memakan waktu beberapa bulan, dan bahkan beberapa tahun, dan seringkali lebih efektif ketika dimulai pada usia dini. Jika ambliopia terlambat terdeteksi (contohnya setelah usia 8 tahun), ada kemungkinan kerusakan visual tidak dapat disembuhkan. Karena itu sangatlah penting untuk memeriksakan mata anak anda jika Anda atau pelayanan kesehatan sekolah mencurigai atau menemukan problem penglihatan.

  • Kacamata korektif yang sesuai, ini dapat digunakan jika penderita juga mengalami rabun jauh, rabun dekat, atau silinder.
  • Penutup mata (Eye patches), ini digunakan oleh anak usia 4 tahun ke atas. Penutup mata digunakan dengan cara menutup bagian mata yang sehat selama 2 hingga 6 jam setiap hari, tergantung derajatnya. Ini dilakukan dengan tujuan merangsang perkembangan mata yang lemah agar berfungsi normal. Hal ini sebaiknya dilakukan sedini mungkin.
  • Obat tetes mata khusus, ini digunakan untuk memberikan efek buram sementara pada mata yang sehat (tidak bekerja pada penderita yang sudah rabun). Anda tentu heran mengapa mata yang normal harus diburamkan? Tujuannya agar merangsang anak untuk menggunakan mata yang lemah tersebut.
  • Operasi bedah mata, tindakan medis ini diperlukan bagi mereka yang terkena katarak atau yang ingin memperbaiki struktur kelopak mata.

Penanganan mata malas sebaiknya dilakukan sejak dini. Terkadang kombinasi dari pengobatan diatas juga dibutuhkan. Tindakan aktif seperti bermain puzzle, menggambar, dan bermain komputer juga dapat dicoba—khususnya dengan penggunaan penutup mata.

Tujuan pengobatan adalah perbaikan penglihatan pada masing-masing mata seoptimal mungkin.

Terapi ambliopia atau kelainan refraktif pada satu mata saat usia 3-5 tahun akan memperbaiki tajam penglihatan secara bermakna, dan secara teori akan menyebabkan perbaikan permanen selama hidup dibandingkan bila tidak ditangani. Makin cepat ditangani semakin baik

Segera konsultasikan dengan “dokter spesialis mata khusus” anak agar mendapat penanganan yang tepat! Di Surabaya ada dr. Irma dan dr. Ria di RS. Undaan.

Ingin mendapatkan email inspiratif dari Purba Kuncara langsung ke inbox Anda ?

Silahkan daftar di mailing list purbakuncara.com

Leave a Reply