Harga ditawar, kualitas diturunkan ?

Paling ga enak itu kalau ada pembeli yang pakai tawar menawar. Sudah tahu harga net, masih terus dinego, dan pakai membanding-bandingkan. Kecuali untuk reseller memang saya beri harga khusus karena belinya ga cuma sekali dan memang untuk dijual lagi.

Sedikit cerita : Saya 4 tahun lalu pernah menerima jasa pembuatan web. Saya kasi harga 500ribu, eh orangnya nawar 200ribu. Ya hitung-hitung membantu orang tersebut deh akhirnya saya terima. Sudah murah, masih juga ditawar… X_x

Web sudah saya bikin, eh orangnya ga terima… Katanya ga sama persis dengan yang dia inginkan. Bagaimana bisa persis kalau gambar cuma sketsa doank. Pagi-pagi jam 5 dia SMS dan mengatakan saya sebagai penipu, pembohong dan bla bla bla. Bikin sensi banget nih orang.

Akhirnya saya kembalikan uangnya Full. Saya cuma rugi biaya charge penghapusan domain 9rb + capek.

Sorenya, emosi saya sudah reda. Dan saya tetap dengan niat baik untuk membantu. Saya sapa orangnya baik-baik, eh dia malah pingin beli domain tersebut. Ya akhirnya saya perbolehkan. Kembali lagi, niat saya untuk membantu agar dia bisa sukses usahanya melalui web tersebut. Saya juga menyadari kesalahan saya bahwa saya kurang jeli dalam menggali keinginan pembeli sebelum deal, sehingga hal itu malah merepotkan saya di belakang.

Sampai sekarang orang tersebut masih menjadi klien, meski sesekali suka salah paham dan masih tawar menawar… Ga tahu kenapa, apa karena beda daerah kali ya, sehingga bahasanya terkadang Ga nyambung dan kebiasaannya mungkin memang begitu. Tapi hanya beli domain saja. Untuk web desain, saya persilahkan beliau order di tempat lain.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan tawar menawar. Cuma kalau harganya sudah net, ya jangan ditawar, apalagi sudah murah + Full After Sales Support.

Biasanya yang menawar sangat sadis itu orangnya pelit, merasa tidak punya uang, atau memang ingin mempermainkan dan cari gara-gara di belakang.

Minta cepat, minta bagus, minta diprioritaskan adalah beberapa ciri keragu-raguan. Kalau orang ga ragu, dia pasti masih bisa bersabar.

Tapi di sisi saya sebagai klien, saya juga pernah menggunakan jasa tukang las. Saya ga pakai tawar menawar memang, tapi saya kecewa dengan hasil kerjanya.., daripada saya emosi dan minta pengurangan biaya, saya minta dia untuk memberikan bonus sedikit saja. Pas pemasangan besi bonus tersebut, eh malah merusak tembok rumah saya. Seperti biasa, saya orangnya agak ga tegaan memarahi orang. Dia janji akan membetulkan besoknya. Tapi sudah 2 Minggu lebih ternyata dia ingkar janji.

Jadi jika kita sebagai penjual, sebaiknya jika ada klien yang menawar, dan kita tidak nyaman, jangan diterima deh…. Daripada nanti malah repot di belakang. Masih ada 99% klien yang baik yang perlu kita prioritaskan. Tapi jika dia mau kita sesuaikan paketnya, misal dia minta paket b tapi harganya seperti paket A, ya kita sarankan saja mengambil paket A.

Jangan berpikiran bahwa dengan harga kita turunkan maka kita bisa berbuat seenaknya dengan menurunkan kualitas. Klien tersebut tetap menuntut kualitas seperti harga standar!

Jika Anda tidak nyaman, mending Anda tolak, daripada jadi beban dan membuat Anda tidak maksimal dalam pelayanan dan tidak sepenuh hati. Jangan takut kehilangan klien! Tapi jika Anda yakin bisa tetap melayani dengan baik dan sepenuh hati, silahkan diterima. Yang terpenting adalah jangan sampai membuat pembeli kecewa dan over expectation, apalagi memberikan undervalue (di bawah standar pelayanan), karena itu akan jadi feedback negatif dan beban buat Anda.

Menghadapi komplain memang sudah biasa di industri jasa. Saya seringkali menghadapi klien yang tidak sopan dan berkata kasar saat komplain. Terkadang dengan emosi saya marah-marahi balik biar tahu sopan santun dan etika. Dan rata-rata malah mereka jadi pelanggan yang loyal, entah kenapa. Ada yang saya suruh pindah kalau masih suka rewel, tapi tidak mau… Katanya sudah “terlanjur percaya” 😉

Antara profesionalisme dan menurunkan harga, mana yang Anda utamakan ?

Telah dibaca :6269

Tinggalkan komentar