Etika Hidup Bertetangga

Perumahan-baru-depok

Ada seorang teman bercerita bahwa ia telah salah dalam membeli perumahan. Perumahan yang ia beli dengan mengambil semua gaji bulanan itu ternyata lingkungannya kurang bersahabat. Ia merasa seperti dikucilkan karena perbedaan keyakinan (ia minoritas). Lingkungan tersebut memang kebanyakan dihuni oleh orang-orang “garis keras”.

Solusinya mungkin adalah : ia yang  harus mencoba untuk bertahan dan terus berusaha berbaik-baik sama tetangga… Atau ia yang harus cabut dari perumahan tersebut dan mencari perumahan lain.

Tinggal di perumahan memang berbeda sekali dengan tinggal di desa. Desa saya sendiri, di Blitar Jatim, ada 3 tempat ibadah…. Masyarakatnya heterogen dan guyub rukun. Tidak terpancing dengan isu-isu yang memecah belah. Kalau hari besar keagamaan, ya saling berkunjung dan bersilaturahmi tanpa memikirkan perbedaan.

Tinggal di perumahan itu berarti memang harus bersiap untuk bertenggang rasa dengan tetangga. Umumnya perumahan, terutama perumahan menengah ke bawah, temboknya kan mepet (berdampingan langsung), sehingga kalau tetangga sebelah memutar musik keras-keras atau sering bikin acara ramai-ramai, terkadang masih kedengaran oleh tetangga-tetangga yang lain. Di sini sebenarnya tidak ada masalah jika masing-masing tetangga sudah saling kenal dekat, sering ngobrol dlsb.

Tapi berbeda jika perumahan itu adalah kelas menengah ke atas. Biasanya frekuensi “jagongan” atau “ngrumpi” antar warga sangat kurang sekali. Hal ini yang seringkali menimbulkan gesekan akibat tidak kenal dengan baik. Misalnya, ada warga X sering kedatangan banyak tamu, lalu tamu-tamu tersebut memarkir mobilnya di warga Y. Warga Y karena merasa tidak terima depan rumahnya sering dibuat parkir tanpa ijin, lalu melabrak… Hahaha  (saya punya pengalaman bertamu dan memarkir mobil di warga Y ini dan saya yang dilabrak).

Semoga hal itu tidak sampai kejadian ya… Harus bisa menahan emosi. Bagaimanapun juga, kalau itu adalah rumah tempat tinggal, maka itu artinya bukan bertetangga untuk sehari dua hari melainkan seterusnya. Jadi jangan sampai hubungan itu renggang, atau malah jadi “satru” atau timbul kebencian sehingga tidak mau disapa atau menyapa.

Saya pribadi juga tinggal di perumahan. Perumahan pertama yang saya tinggali orangnya senang ngrumpi. Hehehe… Senang rasan-rasan atau ngegosip. Perumahan kedua yang saya tinggali orangnya cuek-cuek. 2 orang tetangga sangat baik, disapa juga sangat ramah. Tapi ada tetangga juga yang wajahnya sangar, tidak mau disapa dan menyapa.

Nah, perumahan terakhir yang saya tinggal sekarang juga ternyata ada plus minusnya. Ada tetangga yang setiap 3 bulanan sekali pasang terop lalu karaokean dengan menggunakan elektone  dan soundsystem dengan mengundang teman-temannya. Hal itu tidak masalah sih karena dilakukan siang hari hingga malam hari jam 7, sehingga tidak mengganggu jam istirahat.

Tapi ada juga tetangga yang sering mengadakan acara ibadah secara berjamaah (sekitar 10 – 30 orang) setiap malam hari (mulai jam 11 malam hingga jam 2 pagi-an), terkadang menggunakan soundsystem. Suaranya masih terdengar di rumah saya. Kalau tidak pakai speaker, maka saya cukup menutup semua pintu lalu tidur. Ya masih terdengar rengeng-rengeng (sayup-sayup) sih, tapi tidak masalah. Yang jadi masalah adalah ketika menggunakan soundsystem/speaker, dari jam 7 malam hingga jam 11 malam, semakin malam semakin keras suaranya, sehingga membuat anak saya sering terbangun tidurnya. Kalau sudah begini, saya mending ngungsi sebentar naik mobil ke luar… Baru pulang ke rumah jam 12 malam. Lebih baik mengalah kalau merasa terganggu, kecuali ada warga lain yang juga merasa terganggu, mungkin bisa lapor ke ketua warga perumahan atau Pak RT.

Hidup di perumahan memang harus bisa menjaga toleransi, kebersamaan, kehangatan dan keramahtamahan agar bisa tetap harmonis. Kalau perlu, jika ada tetangga yang bikin acara, ya dibantu. Entah itu jadi tukang parkirnya, menyediakan tempat parkir ataupun membantu menyiapkan makanan. Hal itu agar ketika kita punya acara, merekapun juga mau ikut mendukung. Bukankan harmonis itu lebih indah?

Telah dibaca :261

Tinggalkan komentar