Peralatan FTTH Yang Seharusnya Ada

Internet sudah menjadi kebutuhan banyak orang saat ini, baik di desa maupun kota. Tiktok, youtube dan WA merupakan aplikasi yang banyak diminati. Tentunya hal ini merupakan peluang positif bagi Anda yang tertarik dengan bisnis jualan jasa akses internet. Apalagi semenjak dikeluarkan UU Cipta Kerja tahun 2020, Anda tidak perlu direpotkan dengan perijinan ISP. Anda cukup menjadi subnet dari ISP yang sudah legal (kerjasama). Dan kalaupun Anda ingin mendirikan ISP, biayanya juga GRATIS dan persyaratannya juga mudah untuk dipenuhi, asal ada niat dan dana tentunya!

Media yang banyak dipakai saat ini adalah fiber optic, atau yang dikenal dengan FTTH (Fiber To The Home). Untuk wireless mulai ditinggalkan karena banyaknya interferensi.

Berikut ini peralatan yang sebaiknya harus tersedia saat pemasangan dropcore, baik untuk jalur utama maupun ke pelanggan :

  1. Tang buaya : untuk memotong dropcore. Saya menyarankan merek TOHO karena tajam.
  2. Palu : untuk memasang klem kabel di dinding rumah pelanggan
  3. Tespen minus (cari yang runcing) : untuk memisahkan kawat seling
  4. Bor portabel : untuk memasang klem ODP di tiang agar cepat
  5. Bor listrik tembok : untuk memasukkan kabel menembus tembok
  6. Senter kepala / Lampu portabel : membantu pemasangan dan splicing saat malam hari
  7. Kursi pendek 2 buah : dibutuhkan saat splicing, karena kalau tidak pakai kursi akan capek
  8. Sabuk pengaman untuk pemanjat (safety harness) : agar ketika kehilangan keseimbangan, kecerobohan ataupun kesadaran tiba-tiba menurun tidak langsung terjatuh
  9. Splicer : untuk menyambung kabel dropcore dengan dropcore, ataupun dropcore dengan patchcord/pigtail. Merek rekomendasi : signalfire / jolink ai6c (harga Rp. 10.000.000 – 11.000.000)
  10. OPM : untuk mengukur redaman. Disarankan menggunakan merek Joinwit JW-3208.
  11. OTDR : disarankan menggunakan merek novker. OTDR ini alat yang sangat penting untuk mencari kabel yang terputus atau melihat kualitas kabel. Terkadang hasilnya memang tidak akurat, jadi Anda harus mengetes lebih dari 1 kali. Untuk OTDR novker ini juga bisa jadi sumber laser, jadi tidak perlu lagi beli OLS Joinwit (OPTICAL LIGTH SOURCE JW 3109) yang harganya 900ribu lebih.
  12. Roda pengukur : untuk memastikan berapa kebutuhan kabelnya
  13. Galah 7 meter : membantu memasang kabel ke tiang atau atas genteng/dak. Saya menggunakan stainless teleskopik yang cukup kuat dan ringan.
  14. Kipas angin portable : membantu mempercepat pengeringan sleeve FO dan pemasangan di rumah kalau suhu ruangannya terlalu panas (biar tidak sumuk)
  15. Handy Talky : untuk komunikasi dengan semua kru saat di lapangan. Sebaiknya beli HT yang mini seperti BFT1 agar mudah dibawa. Pengalaman saya di lapangan, HT ini mudah sekali terjatuh. Jadi kalau bisa dibuatkan tali untuk diikatkan di leher
  16. Besi penyangga roll kabel untuk memudahkan penarikan gulungan kabel.
  17. Visual fault locator : Berguna untuk mencari kabel putus secara manual.
  18. Korek api : untuk membakar isolasi bakar

 

Bahan yang digunakan :

  1. Kabel FO (disarankan merek zimmlink)
  2. Pathcord / pigtail kuning 3mm – 3 meter.
  3. Paku tembok biasa
  4. Paku tembok cor
  5. Klem kabel
  6. Kabel ties (besar, sedang, kecil)
  7. Label kabel
  8. Sleeve besar dan kecil
  9. Fastcon (buat jaga-jaga kalau splicer ada kendala)
  10. Barrel
  11. Isolasi plastik hitam (merek 3M)
  12. Stiker kertas untuk penanda user di ODP
  13. Isolasi bakar

Peralatan yang menggunakan baterei isi ulang wajib dicharging dulu setelah dipakai agar siap pakai.

Kabel FO, saya rekomendasi merek zimlink. Untuk kabel utama (backbone), saya menyarankan minimal menggunakan 4 core sekaligus agar nanti jika ada perluasan tidak perlu pasang kabel lagi. Sedang untuk ke customer, bisa pakai single core ataupun dua core. 2 Core ditujukan khusus untuk customer yang pemasangannya sulit, agar jika ada kabel yang putus, masih bisa pakai core yang lainnya. Untuk dari ODC ke ODP saya juga menyarankan minimal menggunakan 2 core.

Masalah yang sering dihadapi :

  1. Kabel kurang panjang, akhirnya disambung. Sambungan rawan putus jika tidak disambung dengan tepat.
  2. Sambungan kabel putus. Jarang sekali terjadi untuk kabel merek zimmlink kondisi baru mengalami kerusakan di dalam (pecah di dalam, cacat produksi). Jadi kalau ada kabel terputus padahal baru terpasang, umumnya itu karena ada sambungannya yang kurang bagus, utamanya sambungan dropcore dengan dropcore. Jika ingin aman, gunakan roset untuk sambungan.
  3. Ijin dengan warga sekitar yang dilewati kabel dan tiang. Seringkali ini menjadi kendala di lapangan.

Untuk OLT, saya menyarankan menggunakan HIOSO HA7304C dan VSOL karena relatif dingin suhunya dan jarang ada kendala. Untuk modem, saya menyarankan menggunakan huawei HG8245H ataupun HG8245H5. Tentu saja kebanyakan kondisinya bekas. Untuk modem yang harganya lebih murah, saya menyarankan menggunakan F477 v2 (bisa multi SSID) dan F663nv3a (sayangnya cm 1 SSID).

Untuk splitter, saya menggunakan PLC (passive) karena redamannya relatif sesuai harapan. Meski kabel mungkin agak boros sedikit. 1 Port EPON saya maksimal 50 user dengan total 16 ODP (splitter 1:8). Kenapa 16 ODP ? ya, karena belum tentu semua ODP Terisi penuh. Jika ada yang membutuhkan lebih dari kapasitas total 1 PON, maka saya tinggal menyambung saja sisa core yang belum terpakai ke port EPON yang masih belum penuh.f

Lalu kenapa saya lebih memilih EPON ? kenapa tidak langsung pakai GPON ZTE C320 ?

Selain karena harga GPON yang lebih mahal, saya menggunakan EPON untuk radius maksimal 2 km agar redamannya tetap bagus. Selain itu, jika 1 OLT EPON ada kerusakan, maka harganya juga tidak terlalu mahal. Umumnya OLT EPON harganya 6 – 7 juta sudah termasuk 4 buah SFP.

Belajar OLT sangatlah mudah, dan sudah banyak tutorialnya di facebook. Anda tidak harus mengikuti kursus khusus yang harganya 1,5jt.

414 Total Views 1 Views Today

2 thoughts on “Peralatan FTTH Yang Seharusnya Ada

  1. Kaka sayah mau tanya klow kita udah pasang WiFi dari pusat semisal 20mbps terus yang 20mbps ituh kita mau di perkembangan lagih oleh kita jadi istilah nya membangun jaringan RT RW net dari kita nah pertanyaannya apah kah kita juga harus buat surat ijin dulu sebelum membangun jaringan sendiri sedang kan kita pasang internet nya yang sudah terpasang di kita internet tersebut sudah resmi ada ijin surat usaha

  2. Untuk berjualan internet, harus punya ijin ISP. Atau setidaknya jadi SUBNET ISP Resmi dengan surat PKS (Perjanjian Kerjasama). Persyaratan untuk bisa PKS adalah Anda harus punya NPWP dan NIB jual kembali jasa internet.

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: