Krisis Industri Radio dan Perubahan Alur Bisnis Radio

Pada tahun 90-an, masa kecil saya, radio cukup banyak diminati oleh masyarakat desa. Apalagi setelah hadirnya radio FM pertama kali di Blitar sekitar tahun 1993, yaitu radio Patria FM dengan semboyan “memang cringggg”, radio semakin diminati. Makhlum, saat itu kebanyakan warga sangat jarang yang punya tivi, boro-boro tivi berwarna, tivi hitam putih saja bisa dihitung dengan jari. Apalagi sinyal UHF masih sulit kala itu, sehingga antena harus benar-benar tinggi dan diarahkan ke arah Malang.

Beberapa waktu yang lalu saya membaca status facebook dari seorang pemilik jaringan radio yang cukup besar di Indonesia, bahwa beliau baru saja bekerjasama dengan salah satu radio di daerah Papua, tentu saja hal ini untuk memasarkan beberapa produk herbal. Lalu saya lihat foto-foto mixer dan pemancarnya, sepertinya saya pernah tahu foto ini. Dan ternyata benar, itu adalah radio yang dulu seorang teman saya pernah terlibat dalam pendiriannya. Waktu saya tanyakan ke teman saya ini kenapa radionya kok bekerjasama dengan “radio jamu”, jawabnya cukup mengagetkan : “Karena ga ada yang ngurusin”. Radio memang salah satu bidang usaha yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan butuh orang-orang yang bertalenta. Tapi memiliki sebuah “media publik” itu adalah sebuah KEBANGGAAN bagi sebagian orang.

 

Alur Bisnis Radio Yang Telah Berubah

Kalau berbicara konsep radio komersial, dimana hidup radio tergantung dari pemasangan iklan, maka saat ini sepertinya sangat sulit untuk menggaet pengiklan akibat gempuran digitalisasi. Terjadi pergeseran trend hiburan di masyarakat, dari radio dan televisi menuju Youtube.

Saat ini sangat sedikit radio yang bisa hidup karena murni dari iklan, bahkan ada beberapa di antaranya harus mengobral harga iklan dengan sangat murah untuk bertahan hidup. Radio yang harusnya dikerjakan secara tim, nyatanya hanya satu atau dua orang saja yang bekerja, dan hanya memutar lagu dan iklan saja. Di sisi lain, ada pula radio yang memang sudah cukup besar dan iklannya juga masih tetap ramai. Hal ini tentu saja tak luput dari peran manusia-manusia di dalamnya, dalam hal ini adalah owner, station manager, produser dan marketing.

Alur bisnis radio komersial yang umumnya adalah : radio membentuk format siaran yang berisi konten yang menarik bagi sasaran khalayaknya, kemudian disiarkan setiap hari, sehingga lama kelamaan terbentuklah sejumlah besar kelompok pendengar yang loyal yang mendengarkan setiap hari siaran-siaran radio tersebut. Dengan adanya kelompok pendengar loyal itu, maka ini kemudian ditawarkan kepada (calon) pemasang iklan yang produknya memiliki sasaran calon konsumen yang sama dengan pendengar loyal radio itu. Dari sinilah kemudian radio tersebut jadi memiliki pendapatan / pemasukan dari para pemasang iklan.

Tetapi tidaklah demikian kebanyakan saat ini. Rata-rata radio hanya memiliki satu atau dua orang penyiar yang sekaligus juga sebagai penyusun lagu dan merangkap marketing. Radio memang harus efisien mengingat biaya listrik yang cukup mahal. Dengan susahnya mengurus ijin radio komersial dan terbatasnya alokasi frekuensi radio di beberapa daerah, tidak jarang para penggiat radio yang akhirnya mengambil ijin “radio komunitas” yang harusnya tidak boleh bersifat komersial tapi nyatanya bertujuan untuk memasarkan produk-produk, seperti produk pertanian dan herbal. Radio yang alur bisnis umumnya adalah dari periklanan, berubah menjadi media untuk menjual produk-produk sendiri.

 

Fenomena Radio Jamu

Fenomena menjamurnya radio jamu, baik legal maupun ilegal merupakan hal yang cukup disorot saat ini. Sewaktu saya mengobrol dengan salah satu komisioner KPID, beliau mengatakan bahwa “inilah pasar bebas”. Seharusnya KPID memang mendorong radio-radio yang berijin untuk lebih memajukan kontennya, bukan justru terkesan “membiarkan” dan “masa bodoh” dengan dalih “pasar bebas”.

Beberapa perusahaan jamu membeli radio yang sudah ada bukan untuk memajukan stasiun radio itu secara bisnis radio yang umum, melainkan sebagai sarana media untuk mempromosikan produk-produknya. Sehingga ada radio yang isi siarannya sepanjang hari hanya memutar rekaman talkshow kesehatan tradisional.

Ibaratnya seperti membeli Speaker TOA, demikianlah pengusaha jamu tersebut membeli atau mendirikan sebuah radio. Dulu pedagang jamu sering memakai mobil yang dipasangi speaker TOA, terus keliling desa untuk mempromosikan jamunya. Lalu berhenti di satu pasar, berkoar-koar dengan speakernya untuk mempromosikan jamu, diselingi lagu-lagu dangdut, lalu orang-orang di pasar berdatangan membeli jamunya disitu. Nah, sekarang hal seperti itulah yang dilakukan di siaran radionya.

Penyiar-penyiarnya berbicara tentang khasiat produk jamu dan promosi-promosi lain tentang produk jamu, lalu diseliingi dengan lagu-lagu. Dan pendengarpun bisa memesan jamu tersebut dengan menelpon ke nomer yang ditentukan dan nanti jamunya diantar ke rumah. Produk jamunya laku, dan dari setiap kemasan jamu yang terjual, stasiun radio menerima komisi sekian persen (sharing profit) sebagai pemasukan / pendapatan buat stasiun radio tersebut. Di sini jadi terlihat kesan MONOPOLI IKLAN.

 

Radio Sosial dan Keagamaan Yang Berusaha Bertahan

Di Jawa Timur sendiri ada beberapa radio komersial yang kontennya lebih menonjol pada agama tertentu. Sebut saja misalnya Suara Muslim Surabaya, Bahtera Yudha FM Surabaya, Samara FM Tulungagung dan Radio Spirit TOC Surabaya. Dan ada banyak pula radio-radio komunitas dengan konten yang mayoritas bersifat keagamaan.

Radio Rohani ataupun Radio Dakwah umumnya dimiliki oleh perkumpulan atau organisasi keagamaan tertentu. Radio-radio ini sepenuhnya menyiarkan materi dakwah, konsultasi psikologi dan diselingi dengan lagu-lagu rohani/religi. Pendengar radio ini juga jumlahnya relatif tidak banyak dibandingkan dengan radio-radio siaran komersial. Dengan sendirinya radio ini tidak terlalu menarik bagi pemasang iklan komersial. Maka dana operasionalnya diperoleh dari dana organisasi tersebut ditambah dengan donatur-donatur individual. Iklan komersial yang muncul umumnya juga dari para donatur atau orang yang terbeban untuk mendukung operasional radio tersebut.

Tidak sedikit pula radio-radio sosial dan keagamaan ini akhirnya gulung tikar karena kurangnya SDM yang kompeten dan sulitnya mencari donatur dan pengiklan.

 

Pergeseran radio ke streaming, sebuah kemajuan ?

Sangat mudah saat ini membuat radio streaming dengan biaya yang sangat murah. Pendengarnya juga cukup banyak dan mudah diukur. Kualitas suaranya bahkan bisa mendekati file asli yang diputar. Tapi kembali lagi, jika membuat radio untuk tujuan bisnis, maka harus tetap dipikirkan bagaimana monetisasinya, baik FM maupun streaming sama saja.

 

Kesimpulan

Saat ini merupakan masa-masa berat dalam industri radio. Harus bisa kreatif dan inovatif agar bisa bertahan.

Ketika hendak membuat stasiun radio, konsep radio harus sudah jelas. Misal, tidak bisa kita ingin membuat stasiun radio siaran dakwah tapi mengharapkan akan dapat meraup pasar komersial untuk menutup biaya operasional. Atau membuat stasiun yang isinya melulu tentang kemanusiaan, tapi mengharapkan adanya iklan komersial sebagai pendapatan utama. Sebaiknya jika memang tujuannya untuk sosial, maka harus ada ada penopang dari bisnis yang lain.

Sumber ide tulisan : http://broadcastsukses.blogspot.com/2020/02/fenomena-stasiun-radio-jamu.html

Telah dibaca :85

Tinggalkan komentar