Kenapa pelaku selingkuh selalu menyalahkan pasangan yang menjadi alasan kenapa ia selingkuh?
Iya, pola seperti itu memang sering terjadi, dan secara psikologis cukup masuk akal—meskipun bukan berarti perselingkuhan bisa dibenarkan.
Ada perbedaan besar antara alasan seseorang berselingkuh dan tanggung jawab atas perselingkuhan.
Misalnya seseorang berkata:
“Saya selingkuh karena pasangan saya tidak perhatian.”
Masalahnya, kalimat itu mengubah posisi dari pelaku menjadi seolah-olah korban keadaan (playing as a victim).
Padahal ada pilihan lain: bicara, meminta perubahan, konseling, mengambil jarak, atau mengakhiri hubungan. Perselingkuhan adalah keputusan yang dipilih di antara pilihan-pilihan tersebut.

Kenapa pelaku bisa merasa dirinya korban?
Beberapa mekanisme psikologis yang umum:
Rasionalisasi
“Saya melakukan ini karena pasangan saya membuat saya kecewa.”
Ini membantu seseorang merasa bahwa dirinya tetap orang baik meskipun melakukan sesuatu yang salah.
Blame shifting
Tanggung jawab dipindahkan kepada pasangan:“Kalau kamu lebih perhatian, saya tidak akan selingkuh.”
Padahal pasangan mungkin punya kontribusi terhadap buruknya hubungan, tetapi keputusan untuk selingkuh tetap milik orang yang berselingkuh.
Self-justification
Manusia cenderung mencari cerita yang membuat perilakunya terasa masuk akal. Mengakui:“Saya memilih mengkhianati pasangan saya.”
jauh lebih menyakitkan daripada mengatakan:
“Saya terpaksa karena pasangan saya.”
- Playing victim
Dengan menempatkan diri sebagai korban, pelaku bisa mendapatkan simpati sekaligus mengurangi rasa bersalah. Ini bisa terjadi, meski tidak selalu. Menghindari konsekuensi
Kalau dia berhasil membuat pasangan merasa bersalah, pembicaraan bisa bergeser dari:
“Kenapa kamu selingkuh?”menjadi:
“Apa yang sudah saya lakukan sampai kamu selingkuh?”Dan itu menguntungkan pelaku.
Tapi ada satu hal yang perlu dibedakan
Menurut saya, kurang tepat juga kalau langsung menyimpulkan “orang yang selingkuh pasti memang sifatnya begitu.”
Ada orang yang memang memiliki pola buruk: suka mencari validasi, impulsif, tidak punya batasan dalam hubungan, mudah berbohong, atau berulang kali selingkuh.
Tetapi ada juga orang yang melakukan satu keputusan buruk dalam hubungan yang sedang bermasalah.
Yang lebih penting adalah melihat bagaimana dia bertanggung jawab setelah ketahuan.
Perhatikan perbedaannya:
Orang yang bertanggung jawab:
“Saya salah. Hubungan kita memang bermasalah, tetapi keputusan untuk selingkuh adalah keputusan saya. Saya seharusnya membicarakannya atau mengakhiri hubungan.”
Orang yang tidak bertanggung jawab:
“Saya selingkuh karena kamu tidak perhatian.”
Kalimat kedua sebenarnya bisa mengandung fakta bahwa hubungan memang bermasalah. Tetapi fakta itu tidak menghapus tanggung jawab atas perselingkuhan.
Jadi menurut saya, pertanyaan yang lebih tajam bukan “Kenapa dia selingkuh?”, tetapi:
“Setelah melakukan perselingkuhan, apakah dia mampu mengakui bahwa itu adalah pilihannya sendiri?”
Kalau jawabannya selalu menyalahkan pasangan, keadaan, masa lalu, kesepian, atau orang ketiga, itu menunjukkan masalah tanggung jawab, bukan sekadar masalah hubungan.
Dan kalau perselingkuhan terjadi berulang kali dengan pola alasan yang sama, barulah sangat masuk akal untuk mempertanyakan apakah itu sudah menjadi pola karakter/perilaku, bukan sekadar kesalahan sesaat.
Perselingkuhan → pilihan/perilaku → rasionalisasi → blame shifting → mengurangi rasa bersalah → menempatkan pasangan sebagai penyebab → menghindari tanggung jawab.
Playing Victim
Playing victim adalah kondisi ketika seseorang memposisikan diri sebagai korban dalam suatu masalah, padahal sebenarnya merekalah yang berbuat salah atau menjadi pemicu utama. Tujuannya adalah menghindari tanggung jawab dan memutarbalikkan keadaan agar mendapat simpati atau membuat orang lain merasa bersalah.
Ciri-Ciri Utama :
- Selalu menyalahkan orang lain atau keadaan atas masalah yang terjadi.
- Merasa tersudut jika kesalahannya diungkap
- Menolak meminta maaf atau mengakui kesalahan pribadi.
- Memanipulasi emosi (guilt tripping) agar orang lain merasa jahat atau bersalah.
- Bersikap defensif atau menyerang saat diberi kritik atau masukan yang objektif.
- Sering mendramatisir situasi demi menarik perhatian dan simpati publik

Medical Doctor, WordPress Fan & Radio Broadcasting. Founder KLIKHOST.COM

